Home / Berita Terkini / Bian Lian, Tarian Bertopeng Cirebon
Bian Lian, Tarian Bertopeng Cirebon
KOMPAS/ABDULLAH FIKRI ASHRI
Penari memperagakan tarian topeng panji dalam kolaborasi bersama tarian khas Tiongkok, yakni Bian Lian, di Keraton Kasepuhan Cirebon, di Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (7/6). Untuk pertama kali, tarian yang merupakan rahasia budaya Tiongkok itu dipadukan dengan kesenian tradisional Cirebon yang berusia ratusan tahun.

Bian Lian, Tarian Bertopeng Cirebon

Bian Lian bukan hanya tarian khas Tiongkok, melainkan juga menjadi rahasia negara. Tarian itu tak boleh diajarkan dan dipentaskan sembarangan. Namun, untuk pertama kali tarian Bian Lian berkolaborasi dengan tari topeng Cirebon. Seni dan budaya tak terikat batas negara.

Terik matahari perlahan meredup saat musik khas Tiongkok mengiringi langkah Defanya Aprechita (21) dan Charlene (20) di lantai Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, Selasa (7/6). Defanya memakai kostum khas Tiongkok berwarna kuning, sedangkan Charlene berjubah merah dengan motif batik Megamendung, khas Cirebon.

Mereka menggunakan topeng Cirebon jenis panji, samba, rumyang, tumenggung, dan klana yang telah dimodifikasi. Tempo musik yang lambat menjadi saat tangan mereka mulai mengganti topeng yang menyembunyikan wajah ayu keduanya.

Dalam hitungan detik mereka berganti topeng. Bahkan, saat tangan Defanya menjabat tangan Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan XIV, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, topeng di wajah Defanya sontak berganti. Dalam tarian berdurasi lebih dari lima menit itu, sembilan topeng silih berganti dengan cepat.

Lebih dari 50 orang yang kebanyakan keturunan Tiongkok terperangah. Kostum seberat hampir 10 kilogram seakan tak mengganggu tarian Bian Lian yang diperankan dua mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan Bandung itu.

Siang itu, tarian khas Tiongkok, Bian Lian, berkolaborasi dengan tari topeng khas Cirebon yang berumur ratusan tahun. “Ini sejarah. Baru kali ini Bian Lian dipadukan dengan kesenian tradisional di Indonesia, bahkan mungkin di dunia,” ujar Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Bahasa Mandarin (YPBM) Jabar Louis Lauw.

Pentas itu diinisiasi oleh YPBM dengan Keraton Kasepuhan Cirebon. Dua tahun lalu, Bian Lian juga dipentaskan di keraton. Namun, kali ini, Bian Lian berpadu dengan tari topeng Cirebon.

Padahal, lanjut Lauw, tari Bian Lian dianggap rahasia negara di Tiongkok karena mengandung unsur sulap ketika topeng berganti dalam hitungan detik. Budaya yang diwariskan turun-temurun itu bahkan harus mendapatkan izin dari otoritas Tiongkok jika ingin dipelajari dan dipentaskan di luar negara.

“Selama dua tahun, murid kami belajar tarian Bian Lian di Tiongkok. Untuk berkolaborasi dengan tari topeng Cirebon, kami sudah mendapat izin. Kostum dan topeng pun dibuat di Tiongkok setelah melihat topeng Cirebon,” kata Lauw.

Rasa Cirebon pun seakan menyatu dengan tarian Bian Lian. Topeng samba yang menyimbolkan masa remaja manusia, misalnya, tergambar dengan topeng putih dengan riasan merah di pipi. Meskipun gerakan tari murni dari Bian Lian, rasa topeng Cirebon masih kental.

Menurut Lauw, tari Bian Lian merupakan tarian khas Tiongkok yang dipentaskan pada upacara adat tertentu yang bermakna menceritakan kembali wajah-wajah dewa yang dianggap sebagai pahlawan oleh masyarakat. Karena itu, tari Bian Lian kerap disebut dengan tari seribu wajah atau wajah yang berganti.

Lima karakter

Menurut dia, lima karakter (wanda) dalam tari topeng Cirebon menjadi alasan tarian itu dikolaborasikan dengan tarian Bian Lian. “Kami juga mempelajari filosofi topeng Cirebon sebelum berkolaborasi,” ujarnya.

Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan XIV, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, mengatakan, melalui seni budaya, kedamaian bisa terbentuk. Seni budaya, lanjutnya, bukanlah menjadi alasan pembeda atau pembuka friksi-friksi politik. “Kami harap ke depan ada perpaduan lain,” ujarnya.

Seni budaya memang tidak mengenal batas atau arogansi negara. “Yang ada, rasa bangga, bisa belajar memadukan seni budaya Tiongkok dan Cirebon,” ujar Defanya, gadis berdarah Batak. (ABDULLAH FIKRI ASHRI)

 

Sumber Berita: Rubrik Budaya, Kompas Cetak, Senin 20 Juni 2016