Home / Berita Terkini / Berpegang Tangan Merajut Mimpi Bersama TOSAYA

Berpegang Tangan Merajut Mimpi Bersama TOSAYA

Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) sebagai institusi akademik selalu mendorong mahasiswanya untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh kepada masyarakat. Banyak kegiatan yang diinisiasi oleh mahasiswa Unpar yang ditujukan sebagai pengabdian kepada masyarakat.

Sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan tertinggi di Unpar, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) pun memiliki program kerja yang bergerak di bidang pengabdian masyarakat. Adalah Ngabantos Sadaya (TOSAYA), program kerja Divisi Pengabdian Masyarakat BEM Unpar yang berbentuk pemberdayaan kampung. Ngabantos Sadaya sendiri merupakan frasa Sunda yang berarti ‘membantu sesama’. Program kerja ini diadakan rutin setiap tahun dengan menggandeng mahasiswa sebagai panitia pelaksana.

TOSAYA 2020 mengangkat tajuk yang berbunyi: “Bersama dalam Asa, Mengabdi dengan Hati.” Pada mulanya TOSAYA 2020 direncanakan akan terdiri dari 3 aspek: sosial budaya, pemberdayaan, serta infrastruktur. Ketiganya direncanakan untuk dilaksanakan di Kampung Cipeucang, Desa Karyamukti, Kabupaten Bandung Barat. Namun, situasi pandemik akhirnya mendorong mahasiswa untuk mencari alternatif dari pelaksanaan kegiatan.

Pemberdayaan Via Daring

TOSAYA 2020 memiliki kegiatan yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dorongan dari keharusan untuk mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi, membuat TOSAYA 2020 harus dilaksanakan secara daring.

Kegiatan TOSAYA 2020 akan berlangsung selama 3 minggu, dengan agenda kegiatan satu kali dalam seminggu. Segmen pertama dari acara tersebut akan mengusung konsep webinar dengan menggagas topik “Bagaimana Revolusi Industri 4.0 Dapat Membantu Tercapainya SDGs Pasca COVID-19?”. Segmen kedua adalah kegiatan pemberdayaan yang diharapkan tetap dapat dilakukan secara offline.

“Kegiatan pemberdayaan rencananya akan dilaksanakan setelah kegiatan webinar dan melibatkan kelompok tani di Kampung Cipeucang. Namun kembali lagi melihat kondisi, kegiatan pemberdayaan akan dipertimbangkan lebih lanjut,” tutur Yohannes Mario, Ketua Pelaksana TOSAYA 2020.

Perbedaan bentuk kegiatan membuat panitia sempat mengalami kesulitan, di antaranya seperti untuk fundraising dan perombakan konsep kegiatan. Namun, kesulitan tersebut berhasil ditangani dengan baik. Panitia pun berhasil menggalakan dana bagi kelompok tani yang nantinya dana tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan kelompok tani di masa pandemi.

Melalui TOSAYA 2020, diharapkan mahasiswa Unpar tetap dapat berbagi dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Terutama membantu kelompok-kelompok yang sangat terdampak dengan keadaan pandemi. Selain itu, kepekaan sosial mahasiswa pun dapat diasah di situasi yang sulit seperti saat ini. Dengan kontribusi yang baik, sekecil apapun itu, setiap orang dapat berbagi dan saling meringankan beban satu sama lain. (AKA/DAN – Divisi Publikasi)