Home / Berita Terkini / Berbagi Pengalaman Dalam Membuat Film Dokumenter
Oscar Motuloh (tengah) berbagi pengalamannya bersama Jay Subyakto (kiri) dalam memproduksi film dokumenter "Banda: The Dark Forgotten Trail"

Berbagi Pengalaman Dalam Membuat Film Dokumenter

Program Magister Ilmu Sosial bekerjasama dengan pusat penelitian Center for Human Development and Social Justice (CHUDS) akan menyelenggarakan Unpar Movie Awards, sebuah festival pembuatan film dokumenter tentang Sungai Citarum bertajuk “Restorasi Sungai Citarum Melalui Karya Film Dokumenter”. Tujuan diadakannya festival film ini adalah untuk mengungkapkan persoalan yang ada di Sungai Citarum sehingga dapat mengedukasi masyarakat.

Maka dari itu, pada Selasa (7/5), Unpar Movie Awards menggelar Technical Meeting di Aula Pascasarjana Unpar yang mengundang sutradara ternama Indonesia yaitu Jay Subyakto dan Oscar Motuloh untuk memberikan saran dan berbagi pengalaman dalam pembuatan film dokumenter. Jay Subyakto, seorang sutradara ternama Indonesia, dan Oscar Motuloh, direktur dari Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA), menceritakan pengalamannya saat membuat film dokumenter “Banda: The Dark Forgotten Trail”.

Sebelumnya, Jay dan Oscar membuat film dokumenter hanya sebagai sebuah hobi tersendiri. Hal ini menjadikan Banda sebagai film dokumenter pertama mereka yang ditayangkan di bioskop. Sebelum membuat film dokumenter Banda, Jay mengaku bahwa dirinya tidak ingin melihat referensi film-film dokumenter lain karena ia ingin membuat suatu hal yang baru, “Ada pemikiran baru, membuat bahasa baru, (dan bagaimana) menuturkan sejarah tapi untuk generasi sekarang,” tuturnya.

Film Banda sendiri menggambarkan tentang bagaimana pulau Banda Neira menjadi alfa dan omega dari sejarah Indonesia. Jay dan Oscar mencoba menceritakan kembali kisah genosida pertama yang terjadi di Banda, bagaimana kapitalisme diperkenalkan di Indonesia, pertama kali perbudakan terjadi, dan bagaimana bangsa Portugis datang ke Indonesia dan berakhir kepada penjajahan di Indonesia yang berlangsung selama 350 tahun. “Apa yang ada di Banda, apa yang terjadi di Banda, ada kesedihan, ada pembunuhan, itu yang mau disampaikan khususnya ke generasi muda.”

Jay Subyakto merupakan lulusan jurusan arsitektur di Universitas Indonesia. Meskipun sekarang ia tidak menggeluti bidang pekerjaan arsitektur pada umumnya, namun ia mengakui bahwa ilmu-ilmu arsitektur yang ia miliki bisa banyak diterapkan di pekerjaannya yang sekarang, baik itu menjadi sutradara film atau pertunjukan, fotografi, bahkan saat ia menggarap video musik.

Tidak hanya menceritakan kisahnya saat membuat film dokumenter Banda, ia juga menceritakan kisahnya saat membuat film dokumenter yang mengontraskan bencana erupsi Gunung Bromo dan bencana lumpur Lapindo. “Bagaimana membuat bahasa gambar tanpa dialog, tanpa narasi. (Saat itu) lagi erupsi, mau ngasih tau, di Bromo erupsinya indah, dan sebenarnya alam dan Tuhan kalau bikin bencana ada keindahan. Kontrasnya dengan Lapindo, suatu bencana alam karena kerakusan manusia sehingga sampai sekarang lebih dari 10 tahun penyelesaiannya belum beres,” jelasnya.

Jay dan Oscar juga tidak lupa memberikan masukan dan saran bagi para peserta yang akan membuat film dokumenter tentang Sungai Citarum. Menurut Oscar, untuk membuat suatu film yang menarik dan yang dapat membawa dampak kepada penonton, harus dilakukan riset dan survey yang baik. “Citarum legendanya gelap, hanya bisa dijelaskan kepada masyarakat melalui film dokumenter atau foto-foto.” tutur Oscar.

Bagi Oscar tujuan membuat film dokumenter adalah untuk menampilkan sesuatu, bagaimana penuturan dan story telling-lah yang menjadi titik yang penting untuk menjelaskan permasalahan. “Alfa dan Omega, awal dan akhirnya penting untuk dipikirkan. Idenya kearah mana, to the point tapi cara penyampaiannya gaya anak-anak milenial sekarang yang komunikatif,” jelas Oscar.

Unpar Movie Awards merupakan sebuah festival pembuatan film dokumenter mengenai Sungai Citarum bertajuk “Restorasi Sungai Citarum Melalui Karya Film Dokumenter”. Peserta dapat mengirimkan hasil karyanya dengan durasi film 20-30 menit yang mengangkat isu seputar lingkungan, gender, kebersihan, kesehatan, atau permasalahan lainnya. Pendaftaran dibuka sampai pertengahan bulan Juli dan peserta dapat mengirimkan data diri ke alamat email: filmcitarum@gmail.com. Pemenang akan diumumkan akhir Juli 2019 dengan total hadiah senilai Rp.10.000.000,00.