Home / Berita Terkini / BEM Unpar 2020: Bersama Berkarya untuk Unpar

BEM Unpar 2020: Bersama Berkarya untuk Unpar

“Unpar Bersama” merupakan slogan yang disuarakan oleh pasangan Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa periode 2020 terpilih, Muhammad Hakkinen Malik (Teknik Industri 2017) dan Ruth Evelyne (Teknik Sipil 2017). Bersama-sama berkarya untuk Kampus Jingga dan menerapkan nilai kebersamaan dalam mencapai tujuan baik adalah cita-cita terdalam bagi Malik dan Ruth. Melalui badan Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) yang kini menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Malik dan Ruth ingin mencapai cita-cita tersebut dan membawa angin segar dalam keorganisasian mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan. 

Malik dan Ruth terinspirasi dari keinginan untuk memunculkan suatu karya dari ide-ide mahasiswa Unpar secara bersama untuk mencapai satu tujuan yang baik. Menurut Malik dan Ruth, keduanya melihat terdapat dinamika mahasiswa Unpar yang kerap kali berada dalam suatu wadah untuk berkumpul, tempat komunal yang bisa mendorong individu untuk bisa mencapai segala hal bersama. Dengan semangat kebersamaan, kolaborasi dan inovasi, keduanya sepakat untuk mengangkat Unpar Bersama sebagai jargon BEM Unpar 2020. “Karena menurut kami kebersamaan ini lah yang menjadi penting, tidak hanya untuk BEM itu sendiri, tetapi untuk masyarakat Unpar pada umumnya,” tutur Malik saat wawancarai oleh Tim Publikasi Unpar.

Berdasarkan hal tersebut, BEM Unpar 2020 bertujuan untuk merepresentasikan Unpar ke pihak eksternal dan turun langsung ke masyarakat luar agar dapat secara sigap menanggapi keadaan lingkungan sekitar dan bisa lebih fokus untuk bekerja sama dengan BEM universitas lain. Malik dan Ruth berharap BEM dapat meningkatkan dan mempererat relasi dan kemitraan himpunan Unpar dengan universitas lain.

Memperkenalkan BEM  

Malik dan Ruth mengungkapkan bahwa dalam periode ini keduanya lebih memfokuskan pada perkenalan organisasi kepada mahasiswa tentang perubahan LKM menjadi BEM dibandingkan pengembangan atau penambahan program kerja. Perbedaan keduanya terletak pada bagaimana LKM bersifat membawahi himpunan dan UKM, yang mana LKM memiliki tanggung jawab terhadap semua badan di bawahnya, sedangkan BEM bersifat sejajar dengan seluruh badan keorganisasian universitas, tetapi memiliki kewenangan tersendiri.  

Malik dan Ruth turut memperkenalkan sistem Objectives and Key Results (OKR) dalam BEM Unpar 2020, yakni sebuah metode manajemen organisasi yang dipopulerkan oleh Google. “Dengan harapan pengalaman yang didapatkan pengurus akan menjadi ‘cuplikan’ dari dunia nyata setelah mereka lulus kuliah,” ungkap Ruth. Malik dan Ruth juga menekankan pentingnya penggunaan riset dan membuat Biro Riset dan Data. Data yang terkumpul akan membantu bagaimana keorganisasian BEM Unpar 2020 akan berjalan ke depan.

Tentunya terdapat pengembangan dan perubahan dalam kelembagaan BEM Unpar 2020, di mana adanya pemecahan Pengabdian Masyarakat dengan Lingkungan Hidup, sebagai badan tersendiri yang dapat lebih fokus untuk mendukung gerakan kepedulian terhadap lingkungan. Selain itu, dalam periode ini juga memperkenalkan pembentukan departemen Ekonomi kreatif untuk mengusung minat dan mengembangkan jiwa kewirausahaan mahasiswa. 

Berkontribusi Kembali

Tumbuh rasa kepedulian dari keduanya yang telah memiliki pengalaman menjalankan dua periode di LKM sebelumnya. “Semangat belajar lebih yang tidak didapatkan dari sektor akademik, keinginan berkembang sebagai suatu individu yang lebih baik, dan menjadi manfaat bagi orang-orang sekitar,” jawab Malik kepada Tim Publikasi Unpar saat ditanyakan apa yang menjadi motivasi yang melatar belakangi Malik untuk memulai langkahnya sebagai Ketua BEM. Begitu juga dengan Ruth yang memiliki semangat, minat dan tujuan yang sama dengan Malik. “Apa yang bisa saya kembalikan lagi dari apa yang sudah saya dapatkan, saya tuangkan melalui BEM ini,” ujar Ruth.

Memasuki era borderless akibat perkembangan revolusi industri 4.0, kesadaran mahasiswa akan pentingnya meniti masa depan semakin menggebu. Namun hal ini berdampak pada menurunnya perhatian yang diberikan oleh mahasiswa terhadap dunia perkuliahan dan kemahasiswaan. Baik Malik maupun Ruth menyadari akan nyatanya tantangan yang dihadapi mahasiswa tersebut.  Malik dan Ruth Ingin berkontribusi sebagai balas budi dari segala pembelajaran dan pengalaman yang telah mereka dapatkan dari berorganisasi, dan menawarkan solusi bagi mahasiswa lain melalui inovasi penerapan sistem OKR dan pembentukan Departemen Ekonomi Kreatif tersebut.

Malik dan Ruth berharap agar BEM terus bisa mewadahi kebutuhan mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan mengabdi untuk sesama. “Semoga setiap orang yang masuk ke BEM bisa belajar sesuatu yang berguna untuk masa depannya dan dapat membuka wadah baru untuk membagi ilmu-ilmu yang telah didapatkan untuk masyarakat luas,” harap Ruth. Selain itu, keduanya juga berharap perubahan ini dapat mendorong antusiasme mahasiswa Unpar untuk mencoba kepengurusan BEM. “Diharapkan adanya partisipasi, rasa ingin tahu, berkolaborasi, dan keinginan untuk belajar dari mahasiswanya. Karena apalah BEM tanpa keterlibatan dari mahasiswa itu sendiri,” pungkas Malik. (MGI/DAN)