Home / Berita Terkini / Belajar Arsitektur Vernakular dalam Arsitektur Hijau
Suasana hari terakhir Pameran hasil ekspedisi Arsitektur Hijau Unpar pada Jumat (13/3/2020). Secara berkala, angkatan muda Arsitektur Hijau Unpar menggelar ekspedisi menyelami arsitektur vernakular di Indonesia.

Belajar Arsitektur Vernakular dalam Arsitektur Hijau

Tuntutan pembangunan massal di era globalisasi ini menimbulkan banyak permasalahan lingkungan yang mengkhawatirkan. Menghadapi keadaan tersebut, kini manusia didorong untuk menerapkan kembali pembangunan yang bersifat eco-friendly. Sebagai konsep yang erat kaitannya dengan kelestarian alam dan masyarakat, istilah arsitektur vernakular kini semakin sering didengungkan.

Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang terbentuk berdasarkan kebutuhan dan  ketersediaan bahan bangunan yang mencerminan perilaku, kebiasaan, dan tradisi atau budaya di tempat asalnya. Arsitektur vernakular menjadi bentuk solusi masyarakat terhadap permasalahan lokal yang ada di suatu daerah, dengan mengandalkan material dan pengetahuan.  Bisa dikatakan Arsitektur Vernakular merupakan evolusi dari arsitektur tradisional yang berusaha untuk terus berkembang memenuhi kebutuhan kontekstual masyarakat dan daerahnya. 

Tim Publikasi Unpar berkesempatan untuk berdiskusi dengan Farhan, selaku ketua Arsitektur Hijau (Arjau) mengenai mempelajari arsitektur vernakular dalam Arjau. Arjau merupakan salah satu organisasi wadah minat Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (HMPSArs Unpar) yang bergerak dalam pendokumentasian dan pelestarian arsitektur vernakular di Indonesia.

Dengan keberagaman budayanya, Indonesia menjadi arena yang tepat bagi pengkaji arsitektur vernakular. “Kami sebagai mahasiswa arsitektur merasa terinspirasi dari bagaimana masyarakat di daerah menyikapi kebutuhan lokal yang dipengaruhi budaya dan alam di sekitar mereka,” ungkap Farhan.  “Dulu, rumah tradisional biasanya memakai penutup atap ijuk. Karena perkembangan zaman, sekarang dirasa lebih mudah menggunakan seng sebagai penutup atap. Lalu, apa dampaknya terhadap kesehatan dan sebagainya? Hal-hal seperti itu menarik untuk kami pelajari,” tambahnya. 

Dewasa ini, masyarakat kembali diarahkan untuk menerapkan konsep arsitektur vernakular dalam pembangunan di Indonesia. “Apa yang kita pelajari itu bisa membantu untuk keberlangsungan masa depan. Kita bisa tahu bagaimana arsitektur vernakular diterapkan pada teknologi material dan struktur yang baru, yang menghasilkan pembangunan eco-friendly, kuat, dan mencerminkan budayanya,” jawab farhan ketika ditanyakan mengapa penting untuk mempelajari arsitektur vernakular.

Dalam rangka pengembangan ilmu dan meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya arsitektur vernakular, Arjau secara aktif menggelar pameran edukatif dan menarik setiap tahunnya. “Kami pernah buat pameran di Kopimanyar milik arsitek Andramatin. Terakhir kami buat pameran ekspedisi kami ‘Menelusur Kei’ di Masagi Koffee dan terlibat juga di Bandung Design Bienalle. Kami juga pernah publish buku tentang ekspedisi kami di Tanimbar Kei dan Timor, juga buku rekam jejak Arjau 30 Tahun,” jelas Farhan. 

Kini menghadapi situasi pandemik, Arjau berusaha untuk memanfaatkan media digital seperti Instagram dan website untuk melengkapi data rekam jejak ekspedisi terdahulu dan dirangkum dalam artikel-artikel menarik.

Berakhirnya masa keanggotaan di Arjau juga tidak memberhentikan semangat alumni untuk terus berbakti kepada masyarakat dan meneruskan visi dan misi Arjau. Sebagai perpanjangan tangan Arjau, alumni mendirikan Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (Yahintara) dan Yayasan pena Arsitektur Hijau Indonesia. Salah satu bentuk pembaktian kepada masyarakat yang dibantu oleh Yahintara adalah pembangunan Rumah Sehat di Garut untuk penderita penyakit tuberculosis (TB). Yahintara bekerjasama dengan warga, mendesain rumah singgah yang menerapkan konsep arsitektur vernakular untuk merawat penderita TB hingga pulih.

Ekspedisi dan pameran yang rutin dijalankan setiap tahunnya tidak luput dari berbagai hambatan, seperti permasalahan ketersediaan biaya dan proses perencanaan yang panjang. Namun didukung dengan rasa kekeluargaan dan antusiasme untuk mempelajari dan menyebarkan ilmu tentang arsitektur vernakular nusantara, hal tersebut dilewati dengan semangat dan hati yang senang.

Di tahun 2020, Arjau memiliki agenda untuk melakukan ekspedisi ke Nagekeo, Nusa Tenggara Timur dan mengadakan pameran bertema daerah Mamasa. Arjau pun mempertimbangkan untuk menggelar pameran digital interaktif yang memanfaatkan multi-media dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. 

”Semoga awareness dan pemahaman masyarakat terhadap arsitektur vernakular semakin baik dengan adanya Arjau, dan semoga Arjau dapat lebih baik dalam menjalankan tugasnya demi ilmu dan masyarakat,” harap Farhan. (MGI/DAN – Divisi Publikasi)

Koleksi artikel, dokumentasi rekam jejak ekspedisi, dan hasil karya Arjau lainnya dapat diakses melalui Instagram @arsitekturhijau dan website arsitekturhijau.com.