Home / Berita Terkini / Konser Intern PSM Unpar, Bangkitkan Semangat Lewat Musik
Musik

Konser Intern PSM Unpar, Bangkitkan Semangat Lewat Musik

Aula Sekolah Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) riuh oleh sorak sorai penonton tatkala para penyanyi di atas panggung memulai penampilan pamungkasnya. Paduan antara suara yang merdu dan koreografi penuh semangat membuat lagu terasa sangat hidup. Menariknya, bagi sebagian besar penampil, ini adalah kali pertama mereka untuk berada di atas panggung sebagai bagian dari Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Unpar.Musik

Lagu “The Greatest Show” yang berasal dari Film Musikal The Greatest Showman ini menjadi penutup rangkaian Konser Intern ke-23 PSM Unpar yang mengusung tema Awaken. Konser Intern yang diselenggarakan pada Minggu (6/5) ini, menjadi ajang inisiasi bagi mahasiswa yang baru bergabung dengan PSM Unpar. Lebih dari dua puluh lagu dari berbagai aliran musik mereka tampilkan dalam konser yang berdurasi kurang lebih dua jam itu.

Selain seni tarik suara, mahasiswa Unpar juga menampilkan bakatnya dalam bermain alat musik mengiringi paduan suara. Bahkan, para konduktor dalam konser ini pun berasal dari kalangan mahasiswa. Empat konduktor PSM Unpar dalam konser tersebut adalah Christo Mario, Alfonsus Albert, Fridolin Maria Alvina Satopoh, dan Albertus Kristanto.

Madrigal hingga musikal

Serupa dengan konser intern sebelumnya, sesi pertama konser disajikan dalam format chamber choir. Konduktor Christo Mario memimpin paduan suara menyanyikan lagu-lagu madrigal gubahan para komposer Inggris. Lewat musik madrigal yang ‘populer’ pada zamannya, penikmat musik dibawa kembali ke masa-masa kejayaan Madrigal Inggris di abad ke-16 hingga 17. Memasuki sesi kedua, konduktor Alfonsus Albert membawakan lagu-lagu paduan suara kontemporer. Salah satu lagu yang dibawakan yaitu “Exultate Deo” merupakan karya gubahan komposer Indonesia, Budi Susanto Yohanes.

Memasuki babak kedua konser, Alvina Satopoh memimpin paduan suara mempersembahkan lagu-lagu rakyat dari berbagai penjuru dunia, yaitu Tiongkok, Mongolia, Afrika Sub-Sahara juga Indonesia. Salah satu lagu yang dibawakan dalam sesi tersebut adalah “Paris Barantai”, lagu daerah dari Kalimantan Selatan, yang digubah oleh Ken Steven.  Terakhir, sesi keempat diisi oleh medley dari Musikal Les Miserables. Kisah ironi kehidupan masyarakat bawah di tengah kekacauan Revolusi Perancis menjadi hidup lewat lagu-lagu yang dihadirkan oleh Albertus Kristanto sebagai konduktor.

Konser diakhiri dengan tepuk tangan meriah dari para penikmat musik.  Dua lagu encore, yaitu “Make Our Garden Grow” dan “The Greatest Show”, tampaknya ‘belum’ bisa memuaskan keinginan para penonton untuk mendengarkan lebih banyak karya indah dari para penampil. Sejalan dengan tema yang diusung, penampilan yang dihadirkan jelas telah membangkitkan semangat para penggemar setia PSM Unpar.