Home / Berita Terkini / Bandung Teknopolis : Mimpi atau Realitas?
Bandung Teknopolis

Bandung Teknopolis : Mimpi atau Realitas?

ENCEP SUKONTRA

BANDUNG, KabarKampus – Kota Teknopolis secara sederhana didefinisikan sebagai kota yang dibangun, dikelola dan dikembangkan berbasis teknologi. Meski bukan konsep baru, kota berbasis teknologi ini digaungkan kembali oleh Ridwan Kamil, Walikota Bandung dengan nama Pertumbuhan Primer Gedebage.

Mangadar Situmorang, Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), menyatakan saat ini Bandung Teknopolis masih berupa gagasan.

Jika gagasan ini berhasil terwujud, maka Bandung Teknopolis akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dan pengembangan industri berskala nasional dan internasional.

Agar gagasan itu terwujud, Bandung Teknopolis harus menjadi gagasan bersama Pemerintah Kota Bandung dan masyarakat di dalamnya.

“Rencana tersebut hendaknya tidak dilihat sebagai permainan simbolik belaka,” kata Rektor Mangadar Situmorang dalam makalah berjudul “Bandung Teknopolis Menuju Bandung Juara: Merajut Mimpi Bersama”.

Makalah tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional “Bandung Teknopolis” di Aula Kampus Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Jumat (03/06/2016).

Arti teknologi dalam teknopolis, lanjut Mangadar Situmorang, memiliki banyak dimensi. Mulai dari infrastruktur kota, transportasi, komunikasi, sampai relasi-relasi sosial yang berlangsung di antara pengisi kota.

Padanan teknopolis adalah smart city dan silicon valley. Kedua istilah ini menggambarkan kehidupan kota yang aman dan nyaman ditopang manajemen kota yang serba mudah, cepat, lancar dan produktif. Semua itu tidak lepas dari peran riset atau inovasi. Sehingga di teknopolis akan muncul research center atau techno park.

“Arti strategis dan sentral teknopolis adalah inovasi atau kreasi sebagai hasil dari riset yang selanjutnya mampu mempengaruhi bahkan mengubah struktur ekonomi, sosial dan budaya global,” kata Mangadar Situmorang.

Kriteria penting dalam teknopolis adalah adanya keterpaduan dan saling topang antara berbagai sektor kehidupan dan pengelolaan kota. Sektor bisnis dan ekonomi harus ditopang kebijakan publik, pendidikan, riset yang membuka ruang inovasi, kreativitas, perkembangan budaya dan seni.

Apakah Kota Bandung memiliki “modal” untuk menjadi teknopolis?

Rektor Unpar ini mengungkapkan Bandung memiliki kriteria yang menjadi modal untuk menjadi teknopolis. Pertama, Bandung memiliki perguruan tinggi negeri maupun swasta yang besar, yang menjadi barometer kualitas pendidikan nasional yang menghasilkan tenaga-tenaga terdidik dan terampil. Jumlahnya pun tidak sedikit sekitar 57 perguruan tinggi berada di Bandung dan sekitarnya.

“Para calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Bandung untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas tinggi,” katanya.

Menurutnya, jika satu perguruan tinggi menerima 1.000 mahasiswa baru dan menghasilkan jumlah lulusan yang sama pertahunnya, maka ada 57.000 lulusan yang menjadi tenaga terdidik.

“Hal ini menjadi human capital yang sangat penting bagi pembangunan nasional termasuk pembangunan Teknopolis Bandung,” katanya.

Kedua, kata dia, kemajuan teknologi informasi menjadi modal berikutnya untuk membangun teknopolis Bandung. Setiap warga mudah mengakses informasi. Sedangkan informasi dan teknologi menjadi bahan utama bagi pengembangan ide-ide kreatif dan inovasi-inovasi produktif.

Ketiga, lahan dan infrastruktur transportasi menjadi persyaratan penting teknopolis. Ia menilai, Gedebage yang disokong akses transportasi bagian dari rasionalitas Bandung Teknopolis.

Keempat, sambung dia, inisiatif dan kebijakan pemerintah. Hal ini dapat dilihat dari inisiatif rencana Pertumbuhan Primer Gedebage yang akan ditopang transportasi antar kota. Kelima, ia menilai budaya dan masyarakat Bandung sangat kondusif.

“Masyarakat Bandung terbuka terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan terhadap ide-ide kreatif. Demikian pula dengan budaya masyarakat Sunda yang terbuka terhadap berbagai budaya yang berbeda,” katanya.

Ia menambahkan, ciri penting Kota Bandung adalah kemajemukan budaya. Hal ini ditopang lembaga pendidikan tinggi, pusat-pusat industri, dan perluasan konektivitas dengan kota-kota lain yang membuat masyarakat Kota Bandung menjadi terbuka dan adaptif.

Namun, Mangadar juga menggarisbawahi bahwa pembangunan Bandung Teknopolis tidak lepas implikasi-implikasi ideologis, khususnya kontroversi yang sangat mudah terjadi antara ideologi primordial versus ideologi modern.

Ideologi primordial menghendaki kota yang ekslusif atau penolakan terhadap “yang lain/yang beda.” Di sisi lain ada ideologi modern ditandai inklusivisme dan pluralisme yang terbuka terhadap “yang lain.” []

Sumber: http://kabarkampus.com/2016/06/bandung-teknopolis-mimpi-atau-realitas/