Home / Berita Terkini / Banality of Death: Refleksi Bersama Hannah Arendt

Banality of Death: Refleksi Bersama Hannah Arendt

Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) bekerja sama dengan UNPAR Plus menyelenggarakan Webinar  Extension Course Filsafat (ECF) bertajuk “Banality of Death : Refleksi Bersama Hannah Arendt” pada Jumat (12/6/2020). Diskusi ini dipandu oleh Dr. Y. Slamet Purwadi dengan mengundang narasumber aktris dan politisi Rieke Diah Pitaloka, M.Hum.

Webinar ini  membahas mengenai dangkalnya peristiwa kematian dalam artian seolah-olah kematian tanpa alasan yang jelas atau rasional. Di tengah pandemi kematian seolah-olah tanpa alasan yang jelas dari segi jumlah. Kematian menjadi peristiwa yang rutin sehingga menjadi suatu hal yang biasa dan membuat kebal. Kematian juga ada hubungannya dengan kejahatan. Kematian satu orang dianggap sebagai tragedi, namun jika sudah mencapai jutaan orang menjadi statistik atau dangkal.

Banality of Death 

Hannah Arendt pernah menuturkan bahwa “every moral act was illegal and every legal act was a crime” dalam kaitannya dengan Banality of Evil Eichmann di Yerusalem. Seseorang yang menemui Eichmann mengatakan bahwa secara psikologis tidak ditemukan menderita kelainan jiwa padanya. Beliau merupakan seorang ayah dan suami yang baik, tetapi nyatanya Eichmann adalah salah satu orang yang dianggap paling bertanggung jawab dalam Holocaust yang dilakukan oleh Nazi.

Ada 3 hal menurut Arendt yang bisa menyebabkan seseorang terpapar banalitas. Pertama, manusia mengalami kejenuhan akibat kesepian dari grup modernitas (manusia hidup bersama tetapi masing-masing sibuk dengan dirinya). Kedua, melarikan diri dari masalah karena seseorang tidak berani mengambil keputusan menurut nuraninya yang mengakibatkan seseorang patuh total terhadap hukum. Ketiga, berbagai tendensi totaliter dalam kekuasaan.

Radical Evil vs Banality of Evil

Terdapat perbedaan antara kejahatan secara radikal dan banalitas. Radikal membutuhkan kedalaman berpikir, mampu memahami suatu permasalahan secara mendasar dan seksama. Untuk menjadi radikal seseorang harus mempunyai kemampuan berpikir, karena ia harus mengetahui dasar dari tindakannya. Kejahatan yang ada hanya bersifat ekstrim, tidak memiliki kedalaman berpikir. Pikiran pelaku tidak sampai ke akar dari permasalahan.

Banalitas kejahatan bukan sebagai teori atau doktrin. Hal ini tidak dapat ditelusuri pada kegiatan, patologi, atau keyakinan ideologi pelaku. Banalitas kejahatan bukan berarti kejahatan yang biasa, tetapi kejahatan yang dianggap biasa oleh sang pelaku sebagai akibat dangkal dalam berpikir dan menilai. Pelaku banalitas kejahatan hanya mampu  beraksi tapi tidak bisa berinisiatif, tidak memiliki kemampuan berpikir dan mengalami ketumpulan nurani. Pelaku banalitas kehilangan kemampuan menilai kritis.

Banalitas Kejahatan di Tengah Pandemi

COVID-19 di masa kini dapat menimbulkan banalitas kejahatan. Contohnya seperti seseorang yang menimbun sembako tetapi mengatakan bahwa ia berdagang dan harus mencari untung. Ia tidak melihat bahwa seseorang mengalami kerugian bahkan dalam jangka yang cukup panjang bahkan tidak bisa mencukupi kebutuhan pangannya.

Nurani seharusnya menjadi pengingat bagi kita ketika akan melakukan sesuatu yang tidak baik bagi orang lain. Seringkali di kehidupan sosial kita nurani bekerja setelah sudah melakukan kejahatan. Rieke menutup dengan pesan, “Jangan merasa letih dalam kondisi apapun dan menjadi apatis karena kita akan membiarkan diri kita perlahan masuk dalam mekanisme terbentuknya banalitas kejahatan dimana kita tidak dapat membedakan mana yang baik dan buruk.” 

COVID-19 bukanlah menjadi alasan untuk melegitimasi tindak kejahatan. Meskipun kita tidak memberikan bantuan materi, kita dapat memberikan do’a. Do’a adalah suatu bentuk kita mengasah empati dan solidaritas sehingga mencegah diri kita menjadi pelaku banalitas kejahatan. (JNS/DAN – Divisi Publikasi)