Home / Berita Terkini / Bakti Kampus Untuk Citarum
Salah satu kunjungan KKL Tim Gocir Unpar di Sektor 9 Citarum pada 2018. KKL Tematik Citarum akan diselenggarakan kembali pada 2019 (Dok. Unpar)

Bakti Kampus Untuk Citarum

Universitas Katolik Parahyangan bersiap mengadakan lagi kuliah kerja lapangan di sektor 9 Citarum yang terdapat di wilayah administrasi Kabupaten Bandung Barat. Tim dosen, beserta mahasiswa unpar akan berbincang dengan komandan sektor 9 Satgas Citarum Harum, unsur pimpinan desa dan perwakilan masyarakat setempat guna menyusun langkah kegiatan pada pekan ketiga Juli 2019. Kegiatan tersebut berlandaskan inisiatif Unpar, melanjutkan kuliah kerja nyata atau kuliah kerja lapangan tematik Citarum Harum yang terselenggara atas prakarsa Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada akhir 2018.

Dosen MKU di Lembaga Pengembangan Humaniora Universitas Katolik Parahyangan Stephanus Djunatan memaparkan, kampus (Unpar) terus menjalin komunikasi dengan komandan sektor 9, pimpinan desa dan masyarakat setempat setelah kuliah kerja lapangan (KKL) pada 2018 rampung.

Berlandaskan komunikasi yang terus berjalan baik, Unpar mengadakan KKL lanjutan dengan harapan memunculkan solusi yang lebih komprehensif dan efektif guna menanggulangi persoalan Citarum, terutama di area sektor 9.

Perihal kegiatan KKL tematik Unpar terdahulu, Djunatan mengatakan lebih fokus pada upaya menggali potensi desa, dan masyarakat Desa Cangkorah yang termasuk dalam area sektor 9 Citarum. Sejumlah dosen dari berbagai disiplin ilmu dan sekitar 80 mahasiswa beragam tingkatan ikut serta secara bergiliran. Tim tersebut punya nama Gocir, singkatan dari Gerakan Oentoek Citarum River.

Menurut tim Gocir Unpar, Desa Cangkorah cocok menjadi lokasi penyedia layanan wisata air. “Sudah ada elemen penunjang wisata, seperti wahana rekreasi bertema air dan sejumlah warung makanan. Apalagi, pemerintah daerah setempat berencana membuat embung di sekitar Desa Cangkorah,” kata Djunatan saat dijumpai di LPH Unpar, Jalan Ciloa, Kota Bandung, jumat (12/7/2019).

Tim Gocir Unpar, menurut Djunatan, juga menjalin kerja sama dengan suatu lembaga swadaya masyarakat, mengadakan lokakarya membuat ecobrick yang bisa berfungsi sebagai bahan material konstruksi. “Ecobrick tersusun atas botol yang berisi sampah plastik. Lokakarya bertujuan memotivasi masyarakat mengolah sampah plastik yang berserakan di perairan sekitar Desa Cangkorah menjadi benda bernilai ekonomi,” tutur Djunatan.

Kegiatan KKL tim Gocir terdahulu, menurut Djunatan, memunculkan serangkaian rekomendasi perihal pembenahan di sejumlah aspek, diantaranya perilaku sosial, infrastruktur, sarana, dan prasarana. Tim Gocir mengirimkan rekomendasi ke pemerintah pusat melalui Kemenristekdikti.

Koordinator tim gocir Unpar Pius Suratman menambahkan, upaya Kemenristekdikti memprakarsai KKL atau KKN tematik Citarum Harum merupakan bagian langkah penting dalam mengatasi persoalan Citarum. Menurut dia, daripada kementerian lain yang mengurusi Citarum, Kemenristekdikti bergerak paling sigap. “Kami sangat mengapresiasi langkah Kemenristekdikti tersebut,” ucap Pius.

Selain menyumbangkan pemikiran beserta tenaga dalam rangka menyusun solusi penanganan persolana Citarum, Pius mengatakan, kegiatan KKL menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk dosen. “KKL terdahulu menjadi pijakan langkah guna menyusun langkah lebih jitu untuk penyelenggaraan kegiatan berikutnya,” katanya.

Revitalisasi

Dalam rangka merevitalisasi Citarum, mahasiswa Telkom University membuat alat water quality control. Mereka berkolaborasi dengan universitas asal Korea Selatan. Alat ini masih berbentuk purwarupa, tetapi telah diuji coba di sektor 6 Citarum, sekitar Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Berdasarkan keterangan yang terdapat pada laman ristekdikti.go.id, Kemenristekdikti melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat, diantaranya, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Institut Pertanian Bogor. Berbagai perguruan tinggi itu menyelenggarakan KKL atau KKN di sektor berbeda-beda. Prakarsa Kemenristekdikti termasuk dalam gerakan pentaheliks dalam menanggulangi persoalan Citarum yang kompleks.

Mengutip informasi Balai Besar Wilayah Sungai Citarum pada laman bbws.com, Citarum memiliki panjang sekitar 297 kilometer. Wilayah Sungai Citarum mencakup 12 kabupaten atau kota. Terdapat sejumlah isu utama perihal kondisi Citarum, di ntaranya, efek pertumbuhan penduduk (pertanian, rumah tangga, industri) kerusakan daerah aliran sungai, erosi beserta sedimentasi, penurunan muka tanah. (Satira Yudatama/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Senin 15 Juli 2019, halaman 10.