Home / Berita Terkini / Arsitektur: Mengglobalkan yang Lokal

Arsitektur: Mengglobalkan yang Lokal

Kompetensi lulusan sarjana arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) adalah menekankan pada penguasaan kemampuan dasar profesional (arsitek) yang berwawasan global dan peka terhadap nilai-nilai lokal. Perwujudan konsep ini  tercermin di dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di dalam prodi arsitektur Unpar. Pembelajaran ini juga ditunjang oleh penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sehingga dapat dilaksanakan dengan berjalinan. Kompetensi tersebut sangat relevan dengan visi Unpar yakni  menjadi komunitas akademik humanum yang mengembangkan potensi lokal hingga ke tataran global demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan.

Lokal-global dalam konteks arsitektur dapat dikaitkan dengan aspek tempat, material, teknologi, dsb. Lokal dalam konteks tempat dapat dihubungkan dengan lokasi seperti Unpar yakni sekitar Unpar, atau dapat lebih luas seperti kota Bandung, Jawa Barat, pulau Jawa, bahkan sampai Indonesia. Lokal dapat difahami menunjukkan adanya kekhasan tertentu yang menjadi karakter khusus. Global dapat menunjukkan jangkuan di luar Indonesia, dari wilayah Asia Tenggara, Asia, sampai Dunia. Isu Lokal-global ini menjadi sangat menarik karena relevan dengan munculnya globalisasi dewasa ini yang memang tidak dapat dihindari. Pada dasarnya globalisasi tidak hanya terjadi saat kini namun juga terjadi masa lalu seperti halnya dalam konteks arsitektur Indonesia yang mengalami persinggungan dengan budaya dari luar seperti India, Cina, Timur Tengah, dan Eropa.

Pengembangan wawasan arsitektur lokal dalam konteks globalisasi menjadi sangat penting dalam menguatkan potensi jati diri ke-Indonesia-an di dalam menghadapi masuknya arsitektur dari luar. Wujud desain arsitektur bangunan di Indonesia menunjukkan adanya keberagaman representasi, baik yang dipengaruhi oleh bentuk-bentuk luar maupun yang dikembangkan dari khasanah kebudayaan Nusantara. Fenomena globalisasi pada saat ini membuka kemungkinan seluas-luasnya  penggunaan representasi yang berasal dari luar Indonesia secara bebas dan simultan, misalnya pada fungsi hunian, mal, kantor, museum dan sebagainya. Lambat laun representasi arsitektur yang hadir di Indonesia dapat dimungkinkan akan identik dengan wujud arsitektur yang ada di negara lain. Beberapa karya yang hadir pada saat ini terkesan  anything goes atau sekadar ‘memindahkan’ gaya-gaya arsitektur dari luar. Secara critical semestinya dapat dikaji relasinya lebih jauh dengan konteks ke-lokal-an yang dimiliki oleh Indonesia. Semangat postmodernisme memungkinkan penggunaan gaya-gaya tersebut baik yang terinsprasi dari masa lalu maupun masa kini. Kekayaan kearifan lokal arsitektur yang dimiliki oleh Indonesia hendaknya dapat digunakan sebagai sumber inspirasi dalam perwujudan arsitektur yang hadir saat kini, sehingga terjadi kesinambungan antara past, present, and future.

Indonesia pada hakekatnya memiliki tradisi arsitektur yang kuat dan unggul sejak masa lalu. Hal ini dapat dilihat dari wujud peninggalan arsitektur yang hadir di Indonesia, seperti Prambanan, Borobudur, dsb. Prambanan dapat dianggap sebagai the first highrise building di Asia Tenggara.  Candi-candi tersebut pada awalnya tidak dapat dipungkiri merupakan tradisi yang dikembangkan dari kebudayaan India, namun pada perkembangannya terjadi arus balik, bahwa candi-candi di Jawa tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi yang penting bagi arstektur di Asia Tenggara dan India. Tidak semua bangsa memiliki tradisi arsitektur yang kuat seperti Indonesia di masa lalu. Wujud arsitektur yang beragam dan dinamis merupakan bagian dari tradisi arsitektur tersebut. Keragaman ini menunjukkan pola berfikir masyarakat Indonesia sangat dinamis, transformatif dan terbuka. Indonesia memiliki kekayaan arsitektur tradisional sampai modern yang sangat beragam baik dapat dikenali secara sinkronik maupun diakronik. Potensi kekayaaan arsitektur Indonesia hendaknya dapat dimanfaatkan dalam mengisi perwujudan arsitektur baru  yang hadir pada saat kini dalam konteks globalisasi dan semangat postmodernisme. How become modern and to return the source.

Sesuai dengan visi dan kompentensi lulusan arsitektur Unpar maka pengembangan wawasan lokal merupakan aspek penting dalam kegiatan-kegiatan yang dikembangkan di Unpar, seperti dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengenalan tentang wawasan lokal dan global dilakukan melalui perkuliahan dan studio perancangan arsitektur ataupun melalui penelitian dan abdimas secara bersama yakni dosen dan mahasiswa. Di kampus mahasiswa diminta untuk mengembangkan gagasan dengan merujuk pada potensi tempat (lokal) dimana bangunan ditempatkan untuk dirancang. Dengan demikian kesadaran tentang potensi lokal dapat dihadirkan dalam gagasan arsitektural yan diusulkan.  Kesadaran seperti ini perlu dibangun oleh para arsitek  di Indonesia dalam konteks globalisasi dengan kepluralitasannya di masa kini. Wujud desain yang dihasilkan diharapkan tidak sekadar memindahkan dari luar namun dapat diolah secara kreatif dengan memperhatikan aspek sejarah, budaya lokal yang telah ada sebelumnya. Dengan kreativitas yang mandiri, sumber-sumber lokal diharapkan mampu dibangkitkan kembali melalui transformasi desain arsitektural. Indonesia memiliki kekayaan akan budaya, legenda, mitos yang dapat dijadikan sebagai sumber konsep dalam desain. Dengan demikian arsitektur yang dihasilkan dapat difahami tidak sekadar melokalkan yang global, namun juga mampu menglobalkan yang lokal.

Gagasan menglobalkan yang lokal dapat dirujuk pada penelitian arsitektur yang berkaitan dengan candi di Indonesia. Mempelajari representasi candi pada dasarnya adalah mengenali hakekat representasi yang dimiliki oleh arsitektur percandian tersebut dan dalam lingkup yang lebih luas. Arsitektur candi Nusantara merupakan gambaran keunggulan kreativitas dalam menghasilkan produk desain yang khas. Kekhasan ini ditunjukkan dengan kreativitas berupa kemampuan meramu unsur-unsur dari luar dengan yang telah ada sebelumnya (peranan local genius) atau antara yang baru dan lama. Nenek moyang Nusantara merupakan bangsa yang kreatif – arsitek yang kreatif.

Dalam buku yang baru diluncurkan di Prodi Arsitektur Unpar yakni Eksistensi Candi sebagai karya Agung Arsitektur Indonesia di Asia Tenggara telah ditunjukkan adanya fenomena mengglobalkan yang lokal dalam perkembangan arsitektur di Indonesia. Buku ini merupakan hasil penelitian yang bersifat multinasional yang telah dilakukan melalui dukungan Hibah RISTEKDIKTI dan LPPM Unpar. Hasil dari penelitian ini dapat diperoleh pemahaman yang baru tentang eksistensi arsitektur candi Indonesia pada level global namun tetap bertumpu pada sumber-sumber kekayaan arsitektur Nusantara. Diharapkan melalui kajian tersebut dapat menggugah semangat penghargaan terhadap arsitektur Indonesia sehingga dapat meningkatkan sikap nasionalisme dan rasa bangga terhadap tradisi arsitektur di Indonesia. Penelitian tersebut dilakukan dengan membandingkan antara candi di Jawa, khususnya era Prambanan dan Borobudur dengan candi-candi di Kamboja.

Berperannya arsitektur  candi di Jawa sebagai sumber Inspirasi-rujukan pada candi-candi di Kamboja menandakan candi di Jawa memiliki keunggulan arsitekturnya. Kamboja dapat dikatakan merupakan pusat tradisi percandian di Indocina, pengaruhnya sampai ke Thailand dan Vietnam. Candi Jawa seperti Borobudur dan Prambanan pada hakekatnya telah menginspirasi arsitektur percandian Kamboja, hal ini menunjukan eksistensi Kerajaan Mataram Kuno (Indonesia) yang diperhitungkan di Asia Tenggara. Candi Jawa menunjukkan adanya keunggulan di dalam pengolahan teknologinya. Teknik pertukangan Jawa Klasik Tengah terlihat lebih maju karena mampu mengolah material yang lebih pejal dan teknik pengangkutan yang lebih apik. Material batu candi di Jawa (andesit) jauh lebih keras dari material batu yang digunakan (sandstone) di Kamboja, sehingga lebih sulit diolah. Namun demikian ketika menggambarkan sosok manusia pada relief di Jawa jauh terlihat lebih naturalis yang didukung proporsi tubuh yang indah dibandingkan relief di Angkor.

Fenomena kuatnya eksistensi candi Jawa di Asia Tenggara terbukti dengan digunakannya sebagai sumber inspirasi sampai ke Kamboja. Alangkah baiknya untuk refleksi bagi arsitektur Indonesia di saat kini. Arsitek Indonesia hendaknya mampu menghasilkan karya yang dapat menginspirasi secara deteritorial dan mampu mengembangkan potensi lokal ke-Indonesia-an serta mengimplementasikannya pada bangunan modern dan menjadi sumber inspirasi yang kuat seperti halnya candi di masa lalu. Karya arsitektur hendaknya tidak hanya meniru akibat terimbas globalisasi, melokalkan yang global namun harus mampu menglobalkan yang lokal. Bangsa Indonesia haruslah berbangga karena arsitekturnya telah mampu menginspirasi peradaban besar seperti Angkor khususnya dan di Asia Tenggara pada saat itu.

Pelucuran buku tersebut juga diikuti oleh bedah buku yang  dipandu oleh  Sejarawan Arsitektur Senior: Ir. Sutrisno Murtiyoso, M.T. (Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia-LSAI) sebagai moderator. Presentasi  kemudian dilanjutkan oleh Koordinator tim penulis: Dr Rahadhian Prajudi Herwindo IAI dengan anggota DR. Yuswadi Saliya M. Arch, IAI (Sang Begawan Arsitekur Indonesia), Hadir dalam kegiatan ini beberapa ahli dan pemerhati di bidang arsitektur, sejarah dan arkeologi, seperti Kepala Balai Arkeologi Bandung dan Staf, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Bandung (Dr. Harastoeti DH), Dosen dari UTHM-Malaysia, dan para pakar lainnya. Kegiatan ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik (Dr, Basuki D), dan dihadiri oleh dosen, praktisi arsitektur, dan mahasiswa dari dalam dan luar Unpar. Pembahas dalam acara bedah buku ini adalah oleh Prof Totok Roesmanto (Guru Besar UNDIP- Akademisi Senior Sejarah Arsitektur Indonesia),  dan Prof Dr. Josef Prijotomo (Akademisi Senior Sejarah Arsitektur Indonesia-Unpar, Penerima Satya Lencana Kebudayaan RI). Menurut Prof. Totok kajian dalam buku ini sangat  menarik karena mampu menyandingkan candi Indonesia dengan di Kamboja-Asia Tenggara secara arsitektural (belum pernah dilakukan sebelumnya dari dalam ataupun di luar Indonesia) dan sebaiknya buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dapat dibaca lebih luas di kalangan Internasional. Menurut Profesor Josef yang menggembirakan bahwa melalui kajian di dalam buku ini dapat disimpulkan bahwa Indonesia punya pikiran yang dapat disetarakan dengan tradisi arsitektur di Eropa oleh karena itu kita harus meng-global-kan (aktif) bukannya kita yang ter-global-kan (pasif). Kajian di dalam  buku ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Indri Astrina, S.T., M.A., Dewi Mariana S.T. M.T., dan Skripsi Arsitektur yang ditulis oleh Nathanael Widyargo S.T., Andreas Martinus S.T., dan Galih Andika S.T. Buku ini juga diberikan pengantar oleh Prof Dr. Mundardjito (Arkeolog Senior di Indonesia). Dengan demikian kajian percandian dapat difahami tidak hanya dalam konteks arkeologi namun dapat lebih luas dan transformatif seperti di dalam kajian arsitektural serts tidak hanya menyentuh aspek lokal namun perannya di luar Indonesia (global).

Bangunan candi dapat difahami sebagai material artifact, berupa objek buatan manusia yang meninggalkan jejak atau sebagai teks sejarah (historical texts) dan dapat menjadi collective imagination (khususnya berhubungan dengan warisan tradisi arsitektur masa lalu). Candi dapat dipahami sebagai sebuah ‘Place’ yang mereperesentasikan arsitektur masa lampau dan telah menjadi collective memory secara unself –conscious. Candi dapat dianggap merupakan salah satu hasil dari local genius-nya Nusantara dan merupakan referensi arsitektur yang berakar pada local historical prototypes. Pengembangan wawasan yang berbasis kelokalan tersebut dapat dilakukan melalui upaya pelestarian arsitektur. Semangat pelestarian dapat dibangun melalui usaha-usaha merekontekstualisasikannya, tidak hanya melalui konservasi-preservasi terhadap benda bersejarahnya melainkan melalui penggunaan wujud representasinya yang merujuk pada benda tersebut. Dengan menggunakan representasi benda-benda tersebut, secara sadar maupun tak sadar, usaha-usaha pelestarian telah dilakukan, khususnya menyangkut nilai-nilai yang terkadung di dalamnya. Penggunaan yang kontekstual dan tepat dianggap dapat meningkatkan keutamaan artefak  tersebut. Di dalam menggunakan elemen-elemen percandian (estetika) dalam bangunan modern, arsitek diharapkan memiliki kesadaran yang dilandasi rasa tanggung jawab (etika) yang merujuk pada semangat pelestarian dengan tujuan membangun kebudayaan bangsa, tidak sekadar hanya karena faktor ekonomi.

Candi hanya merupakan salah satu contoh artefak yang menunjukkan semangat menglobalkan yang lokal dalam perjalanan perkembangan arsitektur di Indonesa. Di sisi lain Indonesia juga  memiliki kekayaan lainnya yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu wawasan kelokalan ini harus ditanamkan sejak dini dalam perkuliahan di kampus sehingga dapat dijadikan sumber inspirasi penting dalam proses perancangan arsitektur baik di ketika di masa perkuliahan dan ketika nantinya menjadi praktisi arsitektur. Kuliah lapangan yang berkaitan dengan  objek arsitektur lokal di Program Studi Arsitektur Unpar diwajibkan bagi setiap mahasiswa tingkat kedua untuk mengikutinya. Hal ini diharapkan dapat memberikan dasar pengetahuan yang cukup untuk mengenal aspek ke-Nusantara-an di dalam arsitektur. Kuliah lapangan ini kemudian dikembangkan tidak hanya di dalam negeri namun juga menjangkau di luar Indonesia, sehingga mahasiswa dapat melakukan kajian kritis tentang komparasi antara arsitektur di Indonesia dan di luar Indonesia.

Pengembangan wawasan kelokalan dapat dilakukan melalui pengembangan wawasan tentang material seperti eksplorasi bambu dalam workshop yang dilakukan secara internal di prodi arsitektur Unpar maupun dengan pihak luar dari dalam maupun luar Indonesia seperti dalam kegiatan Bambu Nation yang melibatkan beberapa universitas dari dalam dan luar Indonesia (NUCE Vietnam, UTHM-Malaysia, San Carlos-Filipina) yang sudah terjalin beberapa tahun lalu. Selain itu dalam pengembangan wawasan lokal global prodi arsitektur juga pernah diminta untuk mengembangkan gagasan perancangan kawasan perkampungan di Kota Bandung oleh walikota Bandung terdahulu Pak Emil dengan dukungan kerjasama dengan Departemen Arsitektur NUS-Singapura. Kampung merupakan bagian dari aspek kelokalan yang kuat dan selalu ada dalam konteks perkotaan di Indonesia. Selain kampung di perkotaan, pengembangan gagasan desain yang berkaitan aspek permukiman warisan masa lalu di Kawasan Lasem (pesisiran) juga dilakukan melalui workshop arsitektur dengan bekerjasama dengan Universitas Ulsan Korea dan Univesitas Gunadharma pada bulan Agustus-September 2018. Lasem merupakan daerah yang memiliki karakterisitik kuat yang berkaitan dengan akulturasi antara tradisi Tionghoa dan tradisi Jawa. Pengembangan potensi lokal di Jawa Barat juga dibangun dengan bekerjasama dengan STTC Cirebon dalam mendokumentasikan Keraton-Keraton di Cirebon melalui program Abdimas sejak empat tahun lalu, yang dapat memberikan sumbangan nyata bagi pelestarian budaya di Jawa Barat khususnya di Cirebon. Pengembangan wawasan kelokalan juga diwadahi dalam kegiatan himpunan kemahasiswaaan antara lain melalui ARJAU (Arsitektur Hijau) yang telah menghasilkan kajian-kajian yang berkaitan dengan arsitektur vernacular di Indonesia, seperti di Sulawesi, Nusa Tenggara, dsb.

Dengan demikian wujud nyata dalam Implementasi visi Unpar dan kompetensi lulusan arsitektur Unpar yang berkaitan pengembangan potensi lokal ke tataran global dapat dikenali melalui program-program yang dikembangkan tersebut. Program tersebut diharapkan dapat menjadi modal bagi pengembangan wawasan desain arsitektural yang tidak melupakan aspek kelokalan, baik di bangku kuliah maupun ketika nanti berpraktik menjadi seorang arsitek. Arsitek di Indonesia saat kini hendaknya dapat mengembangkan kreativitasnya secara progresif tanpa harus tergerus arus globalisasi dan tetap mampu mengembangkannya sejalan dengan nilai lokal sebagai identitas/jati dirinya sehingga menghasilkan wujud baru yang meng -‘Indonesia’.

Prodi Arsitektur Unpar

Dr. Rahadhian Prayudi

Sumber: Pikiran Rakyat, 18 Oktober 2018