Home / Berita Terkini / APDeC, Pentingnya Desain Berkelanjutan bagi Semua

APDeC, Pentingnya Desain Berkelanjutan bagi Semua

Untuk ketiga kalinya, Program Studi Teknik Industri Universitas Katolik Parahyangan (TI Unpar) mengadakan Asia Pacific Design Challenge (APDeC). Ajang dua tahunan ini mengundang praktisi, akdemisi, dan mahasiswa desain industri dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik untuk membagi ilmu, berdiskusi serta berkompetisi untuk meningkatkan kualitas keilmuannya, khususnya dalam bidang desain dan teknik industri.

Rangkaian kegiatan APDeC 2017 yang mengangkat tema “A Sustainable Future by Design” berlangsung selama tiga hari, dimulai pada Rabu (1/11). Acara ini dibagi ke dalam dua mata acara besar, yaitu 8-hour Design Challenges serta Lokakarya (Workshop) APDeC. Sebanyak 19 tim beranggotakan tiga orang mengikuti tantangan ini, dua diantaranya merupakan peserta dari luar Indonesia.

Kepada Tim Publikasi, Paulina Kus Ariningsih, dosen sekaligus ketua pelaksana APDeC 2017 menjelaskan, “APDeC bertujuan untuk melakukan diseminasi dan juga selebrasi tentang peran desain terhadap kehidupan sehari-hari.” Ia menambahkan bahwa tema APDeC dilandasi oleh keinginan untuk melakukan perubahan dalam menjamin kelangsungan hidup manusia melalui desain. APDeC, lanjutnya, diharapkan dapat menjawab kebutuhan manusia di masa mendatang lewat desain.

Desain bagi Pengguna Khusus

Kompetisi Design Challenge membuka rangkaian kegiatan APDeC 2017. Acara yang berlangsung di Aula Sekolah Pascasarjana Unpar ini diawali dengan sambutan dari Dr. Carles Sitompul selaku Ketua Prodi TI Unpar, yang sekaligus membuka rangkaian kegiatan APDeC. Ia menyampaikan bahwa kegiatan APDeC menjadi ajang bagi para peserta, khususnya mahasiswa peserta kompetisi, untuk mendapatkan pengalaman dan mampu menjadi desainer yang lebih baik. Acara kemudian dilanjutkan dengan foto bersama, sebelum memasuki pengarahan regulasi dan ice-breaking.

Kompetisi APDeC yang bertema “Design for Special Population: Mobility & Sustainability” ini memberikan tantangan tersendiri bagi para pesertanya. Hanya dalam waktu delapan jam saja, peserta diharapkan dapat menghasilkan suatu konsep desain sesuai dengan masalah yang dihadapi. Selain disesuaikan dengan tema desain yang berkelanjutan, desain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan khusus para penggunanya.

Dalam tantangan ini, mahasiswa bisa mendapatkan informasi dari observasi dan wawancara langsung dengan populasi berkebutuhan khusus, seperti orang dengan keterbatasan fisik, pengguna lanjut usia, juga anak kecil. “Bagaimana membuat desain atau aplikasi yang menarik namun bisa dipakai oleh mereka,” kata Paulina, menjelaskan tantangan yang dihadapi oleh para peserta kompetisi. Konsep dan penggunaan desain tersebut nantinya akan dituangkan dalam bentuk storyboard.

Lokakarya Keilmuan

Paralel dengan kegiatan kompetisi, diselenggarakan pula Lokakarya Desain yang bertempat di Hotel Luxton Bandung. Rangkaian kegiatan lokakarya ini berlangsung hingga hari Jumat. Selama lokakarya sehari penuh, peserta yang terdiri dari praktisi, akademisi, serta mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman berkaitan dengan desain dalam industri dan kehidupan sehari-hari.

Untuk menunjang diskusi dalam lokakarya, APDeC 2017 mengudang berbagai pembicara yang kompeten dalam desain dan teknik industri, yaitu Dr. Paulus Insap Santosa dan Dr. Emil Kaburuan dari IDEAS Indonesia, Dr. Ravindra Goonetilleke dari HKUST, serta Borrys Hasibuan sebagai pakar Google Design Sprint. Secara garis besar, lokakarya akan membahas User Experience, User Interface, dan Design Thinking. “Semuanya sudah memiliki expertise di sana,” ungkap Paulina

Penyelenggaraan APDeC diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik bagi para peserta, khususnya mahasiswa, tentang bagaimana cara kerja industri desain dan meningkatkan keahlian mereka di bidang tersebut. ”Mereka bisa melihat permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki keinginan untuk menyelesaikannya,” jelasnya.