Home / Berita Terkini / Gagasan Antikritik Dinilai Jadi Preseden Buruk bagi Berkembangnya Ilmu Pengetahuan
Ilmu Pengetahuan

Gagasan Antikritik Dinilai Jadi Preseden Buruk bagi Berkembangnya Ilmu Pengetahuan

Jakarta – Munculnya gagasan-gagasan antikritik yang begitu marak muncul di ruang-ruang publik baik itu di media sosial, media massa, mimbar akademik juga mimbar umum beberapa waktu terakhir, merupakan sebuah preseden buruk bagi berkembangnya ilmu pengetahuan. Hal ini karena sesungguhnya, kritik merupakan sebuah syarat yang mutlak dibutuhkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Demikian dikemukakan Karlina Supelli dalam kuliah terbuka yang dilaksanakan di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, yang juga digagas oleh Gerakan Indonesia Kita (GITA) bekerja sama dengan Qureta, Rumpun Indonesia.

Kuliah terbuka ini mengambil tema “Ancaman Terhadap Ilmu Pengetahuan”. Karlina mengatakan, ilmu pengetahuan terancam mati jika tidak ada pagar yang memilah pernyataan ilmiah dari klaim-klaim adialamiah. Ilmuwan tidak lagi dapat menjelaskan informasi yang dihimpunnya selain mengatakan bahwa semua itu adalah hasil campur tangan kekuatan yang tidak dapat ia deskripsikan.

“Kepercayaan tidak dapat menggantikan penalaran ilmiah. Kepercayaan tidak dapat membuat prediksi tentang gejala-gejala di dunia. Kepercayaan dapat membuat ramalan dan nubuat, tetapi kesahihannya juga didapat dari kepercayaan,” kata Karlina.

Dikatakannya pula, perkembangan ilmu pengetahuan tentu saja melibatkan kepercayaan-kepercayaan individual. Akan tetapi, syarat keberterimaan suatu teori mengacu ke kesesuaiannya di tataran empiris dan logis; empiris berarti ada kesesuaian antara pernyataan dan fakta; logis berarti pernyataan-pernyataannya koheren.

Karlina juga menjelaskan tentang bagaimana seorang ilmuwan melacak kausalitas. “Tidak bisa lain kecuali melalui eksperimen berulang-ulang dengan hasil yang ajeg, disertai pemahaman yang mendalam tentang kriteria kausalitas yang spektrumnya cukup lebar,” katanya. Seorang ilmuwan, menurutnya, tidak berhenti pada pencarian hukum-hukum empiris. Mereka ingin menemukan aspek realitas yang tidak berubah dan untuk itu diperlukan bangunan imajinatif yang lebih luas daripada kawasan tempat gejala empiris teramati.

Ia menyebut beberapa jenis sebab yang biasanya digunkan dalam sebuah pencarian ilmiah, yakni sebab niscaya, sebab cukup, sebab komponen-cukup, dan sebab yang bersifat mentah. “Kerancuan memahami nuansa dalam spektrum itu tidak jarang menghasilkan penarikan kesimpulan yang keliru,” katanya.

Itu sebabnya, dalam struktur pengetahuan ilmiah, kepercayaan tidak dapat berperan sebagai penjelasan. “Kepercayaan tidak dapat menggantikan penalaran ilmiah. Kepercayaan tidak dapat membuat prediksi tentang gejala-gejala di dunia. Kepercayaan dapat membuat ramalan dan nubuat, tetapi kesahihannya juga didapat dari kepercayaan,” Karlina menjelaskan.

Gerakan Indonesia Kita (GITA) digagas dan didirikan pada 17 Mei 2017 oleh individu-individu dari berbagai latar profesi seperti pendidik, seniman, pekerja seni, pekerja kreatif, pekerja sosial, penulis, arsitek, wirausahawan, wartawan, dan aktivis.

Sementara Qureta adalah sebuah inisiatif untuk merawat dan mengembangkan tradisi literasi di Indonesia. Di tengah maraknya situs yang mengumbar informasi instan tanpa kedalaman, Qureta ingin memberi ruang kepada para penulis untuk menyiarkan ide mereka secara lebih mendalam dan sistematis.

Sumber: beritasatu.com