Home / Berita Terkini / Alumni FISIP UNPAR 92 Bahas Keberlangsungan Bisnis Kecil di Masa Krisis

Alumni FISIP UNPAR 92 Bahas Keberlangsungan Bisnis Kecil di Masa Krisis

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (FISIP Unpar) angkatan 92 menyelenggarakan webinar ‘Unpar Talk Series’ yang bertajuk “Preserving Small Business During An Economic Crisis” pada Sabtu (18/7/2020). Webinar diisi oleh tiga pembicara dengan berbagai latar belakang dan mengangkat topik yang berbeda; Dharmayanti Kusuma (Co-founder & Marketing DirectorKudozs), Dilar Iyay (Owner PT. Dilar Lintas Raya), dan Rizki Kurniasyah Sadono (Head of Chartering and Business Development PT. Bumi Laju Raya). Webinar ini dimoderatori oleh Rini Stoltz..

Webinar dimulai dengan sambutan dari Dekan FISIP Unpar, Dr. Pius Sugeng Prasetyo. Kemudian pembicara pertama, Dharmayanti Kusuma, memulai presentasinya. Dharma mulai dengan memperkenalkan bisnis event organizer secara umum serta menceritakan awal mula dibangunnya Kudozs. 

Menyelamatkan Usaha

Menurutnya, bisnis event organizer di Indonesia sangat menjanjikan. Terlebih lagi post-2018, setelah Indonesia menyukseskan penyelenggaraan Asian Games 2018. Namun, ketika pandemi COVID-19 datang, bisnis event organizer adalah salah satu bidang yang terkena dampak cukup keras. Dharma pun memberikan tips-tips yang ia terapkan untuk menjaga berjalannya bisnis yang ia tekuni tersebut.

Salah satu cara yang dilakukan Dharma untuk menyelamatkan bisnisnya adalah dengan menyiapkan emergency fund. Selain itu, Dharma juga memaksimalisasikan manajemen karyawannya. Menurutnya, tips terakhir yang menyelamatkan bisnisnya dari kepailitan adalah membuka dan memanfaatkan kesempatan yang ada sebesar-besarnya. Misalnya, dengan mengembangkan side business yang masih berhubungan dengan bisnis utama. Meskipun pemasukan tidak maksimal, setidaknya bisnis masih tetap merangkak perlahan-lahan. 

Bisnis Keluarga

Sementara itu, Dilar Iyay menyampaikan bagaimana ia menjaga dan mengembangkan bisnis keluarga yang diberikan turun-temurun. Bagi Dilar, kunci kesuksesan mengembangkan bisnis terletak pada passion yang dibumbui dengan kerja keras. Dengan begitu, bisnis akan lebih ringan karena kita mengerjakan apa yang kita sukai. 

Selain itu, salah satu kunci kesuksesan bisnisnya juga terletak pada buah hatinya yang berhasil memperluas bisnis Dilar. Anak laki-lakinya kini membantu Dilar pada bisnis cattle fattening atau penggemukan sapi. Saat ini, bisnis sapi lokal milik Dilar semakin berkembang––bahkan di situasi pandemik. Menurutnya, salah satu tindakan yang patut diambil sebagai persiapan masa krisis adalah menyisihkan keuntungan yang diperoleh. Dengan menyisihkan sedikit demi sedikit, ketika masa krisis itu datang, bisnis tidak akan langsung mengalami kepailitan.

Narasumber ketiga, Rizki Kurniansyah Sadono, memulai presentasinya dengan memperkenalkan PT. Bumi Laju Raya. PT. Bumi Laju Raya memiliki spesialisasi di bidang vessel chartering, terutama untuk pengangkutan bahan cair seperti minyak, bahan-bahan kimia, avtur, solar, dan lain-lain. Bisnis yang ditekuni oleh Rizki ini juga lebih fokus kepada transportasi di luar domestik.

Bertahannya Industri

Industri pengiriman, seperti yang digeluti oleh PT. Bumi Laju Raya, juga ikut mengalami dampak yang signifikan dengan adanya pembatasan akibat dari COVID-19. Industri pengiriman mengalami dua dampak sekaligus yaitu: pertama, regulasi pembatasan yang mengganggu jaringan pengiriman itu sendiri; kedua adalah berkurangnya supply dan demand pada komoditi yang biasa dikirim. Karena dua hal tersebut, lalu lintas kapal-kapal (terutama kapal pengiriman) mengalami kemunduran.

Rizky juga membagikan lima hal yang dapat membuat bisnis bertahan pada masa krisis ekonomi. Pertama adalah memposisikan perusahaan sebagai institusi yang sanggup menyediakan demand yang dibutuhkan masyarakat. Perusahaan juga harus mencari cara untuk memenuhi demand masyarakat dengan cara, misalnya mengidentifikasikan isu yang dihadapi dan efeknya terhadap bisnis, membayangkan solusi-solusi ke depan yang mungkin dapat diterapkan, serta beradaptasi dengan keadaan baru yang belum stabil. 

Selain itu, perusahaan juga harus membangun relasi yang baik dengan konsumen untuk menjaga ketersediaan demand. Rizky juga berkata bahwa para staf perusahaan harus berkomitmen untuk bersama-sama membawa perusahaan keluar dari masa krisis. Dan hal terakhir yang bisa dilakukan adalah untuk menghadapi krisis itu sendiri dengan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki perusahaan.

Meskipun pandemi telah menimbulkan krisis pada berbagai bidang, tidak hanya ekonomi saja, namun bukan berarti kehidupan harus berhenti. Dari pemaparan masing-masing narasumber, dapat disimpulkan bahwa selalu ada jalan keluar bagi masalah yang dihadapi—walaupun dalam hal ini yang dibahas hanya perspektif bisnis dan ekonomi. 

Namun, manusia sejatinya akan mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka berada. Begitu pun saat ini, ketika masyarakat sedang berusaha beradaptasi dengan keadaan yang baru. (AKA/DAN – Divisi Publikasi)