Home / Berita Terkini / Aloysius Rusli, tentang Fisika Polimer dan Dialog Iman

Aloysius Rusli, tentang Fisika Polimer dan Dialog Iman

Senyum sumringah Dr. Aloysius Rusli terpancar ketika menerima kunjungan Tim Publikasi di Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (FTIS Unpar). Dengan ramah, ia menerima kami dalam ruang kerjanya yang sederhana. Ruangan itu dipenuhi buku, jurnal, dan tulisan ilmiah yang jumlahnya tidak sedikit. Kini, hari-harinya diisi mengajar dan membimbing mahasiswa Unpar menjelajahi ilmu fisika. Di luar perkuliahan, ia senang membaca dan memperkaya ilmu fisika dan filsafat sains, juga menemani sang istri berbelanja.

Pak Rusli, sapaan akrab beliau, mengakui kecintaannya akan fisika dimulai semasa bersekolah di Malang. “Hal itu terjadi karena di kelas tiga SMA, di Malang, St. Albertus, saya ditugasi memimpin kelompok studi fisika dengan satu teman saya. “Kami berdua cukup berhasil (untuk) membantu teman-teman mengerti fisika,” kenangnya. Keberhasilan itu membuatnya percaya diri dalam mendalami ilmu fisika. Di sisi lain, ia ingin mendalami fisika karena tidak ingin menjadi dokter, pekerjaan yang digeluti oleh ayahnya. “Pada zaman itu, dokter itu mudah digedor pintu rumahnya untuk datang ke pasien, beda dengan sekarang,” jawabnya berkelakar.

Mempelajari fisika polimer

Kesempatan Pak Rusli untuk mempelajari fisika terbuka lebar ketika ia diterima di beberapa perguruan tinggi Indonesia. “Saya pilih yang tertua, yaitu ITB,” katanya. Selama berkuliah, ia mendalami fisika teori. Kecintaannya pada ilmu jugalah yang mendorongnya untuk melanjutkan studi hingga jenjang doktoral dan juga menjadi pengajar. “Saya senang suasana belajar,” ungkapnya.

Mengenai fisika polimer, ia menjelaskan bahwa kesempatan mempelajari ilmu datang dari rekan sesama dosen, Prof. Dr. Benedictus Suprapto Brotosiswojo (Benny Suprapto). ”Pembimbing saya, Pak Benny Suprapto, kebetulan berjumpa dengan dosen Inggris, lalu ketika menyebut ada mahasiswa yang berminat studi S3, katanya ‘silakan’. Bidangnya adalah bidang polimer,” jelasnya. Awalnya, fisika polimer adalah hal yang asing baginya, bahkan bagi sesama koleganya di Indonesia. Namun, Benny mendorongnya untuk mengambil kesempatan tersebut. “Masa depan ilmu material bagus,” ujarnya mengulangi penjelasan pembimbingnya itu.

Berbekal niat yang teguh dan buku fisika dasar, dikarenakan tidak adanya bahan referensi fisika polimer di Indonesia pada masa itu, ia berangkat ke University of Leeds, Inggris. Fisika polimer adalah ilmu yang penelitiannya masih minim, sehingga setelah kembali ke Indonesia, ia hanya bisa menemui tiga sampai empat orang ahli yang memahami ilmu tersebut. “Kami membuat kelompok polimer untuk mempromosikan ilmu tersebut,” ujarnya.

Pendirian Prodi Fisika Unpar

Pak Rusli sendiri telah aktif bergabung di Yayasan Unpar pada tahun 1976, sekembalinya dari studi doktoral. Sebagai pengurus kala itu, ia menjelaskan bahwa dirinya “tidak perlu berpikir tentang bayaran, melainkan cukup berpikir, mengabdi, menyumbang.” Setelah sekian lama menjadi anggota yayasan, ia melibatkan diri secara nyata dalam penyelenggaraan kegiatan akademik di Unpar, dimulai sebagai pengurus Ujian Saringan Masuk (USM) di awal tahun 1980-an, kepala pusat komputer, hingga menjadi wakil rektor bidang akademik dan kemahasiswaan.

Sejak tahun 1993, ia juga terllibat dalam pendirian Prodi Fisika, yang kini berada di bawah FTIS Unpar, untuk menentukan kurikulum dan mengajar. Pengabdian dalam mengembangkan Unpar membawa Pak Rusli mendapatkan Penghargaan Arnzt-Geise dari Yayasan Unpar sekitar dua tahun lalu.

Dialog ilmu dan iman

Dari sekian banyak penelitian, satu hal menggelitik dirinya sejak masih muda, pertanyaan besar mengenai hubungan ilmu dan iman. Hal ini kembali ke dalam benaknya di kala muncul pandangan Gereja Katolik bahwa universitas Katolik harus mampu menghidupkan dialog antara ilmu dan iman. “Dengan demikian, manusia itu utuh dan dapat dikembangkan,” katanya.

Studinya selama lima tahun menghasilkan kesimpulan bahwa, “Memang kalau ilmu kita didialogkan dengan iman kita, apapun itu, maka pengetahuan ilmu dan iman kita dapat menumbuhkan diri kita yang lebih utuh dari sudut logika dan kepercayaan.” Ia juga menambahkan, “Di zaman yang makin kompleks ini, dua aspek ini bisa membantu kita menjadi utuh.”

Terakhir, dalam pesannya bagi mahasiswa fisika, ia mendorong agar kaum muda terus memperkaya dan mendalami ilmu fisika. Apalagi, di dalam dunia yang semakin berkembang, fisika memainkan peranan yang sangat penting.

“Ternyata fisika ada gunanya, untuk membuka pintu ke teknologi,” ujarnya. Tentu, fisikawan tidak hanya berkutat dalam ilmu fisika semata, namun bisa berkarya dalam berbagai bidang, seperti yang telah ia buktikan dalam karyanya selama lebih dari 40 tahun di Unpar. “Saya mencoba menunjukkan kalau bisa menguasai fisika, kita dapat mengerjakan apapun,” pungkasnya.