Home / Berita Terkini / Aktuaris, Profesi yang Dibutuhkan Industri Keuangan

Aktuaris, Profesi yang Dibutuhkan Industri Keuangan

Universitas Katolik Parahyangan membuka program studi aktuaria untuk menjawab kebutuhan profesi aktuaris di Indonesia.

Aktuaris adalah profesi langka yang belum banyak peminatnya. Seseorang dengan profesi ini memiliki kemampuan mengaplikasikan teori probabilitas, statistika, pemrograman komputer, serta ilmu ekonomi dan keuangan untuk menyelesaikan persoalan pada sebuah bisnis, terutama menyangkut masalah risiko.

Umumnya, aktuaris bekerja di industri keuangan, seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun. Selain menguasai teori matematika, serta ilmu ekonomi dan keuangan, seorang aktuaris dituntut piawai dalam berkomunikasi.

“Sejak lima tahun lalu atau ketika Otoritas Jasa Keuangan ( OJK), memberlakukan aturan bahwa perusahaan asuransi wajib memiliki minimal tiga aktuaris, maka profesi ini mulai dikenal masyarakat,” kata dosen Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, Farah Kristiani, S.Si.,M.Si.

UNPAR membuka program aktuaria pada 2019 di bawah prodi Matematika, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains. “Bidang peminatan aktuaria di UNPAR sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2008, tetapi baru sekarang bisa terealisasi sebagai sebuah program,” ujarnya.

Mahasiswa program aktuaria akan belajar dasar-dasar ilmu aktuaria, antara lain matematika dan statistika. Materi ini membantu seorang mengelola risiko keuangan serta memprediksi kemungkinan yang terjadi pada masa mendatang.

“Kalau di perusahaan asuransi, aktuaris ibarat seorang chef. Dia meramu risiko-risiko sehingga bisa membuat suatu produk asuransi. Dia yang menghitung besaran premi yang tepat untuk sebuah produk asuransi, manfaat yang didapat nasabah, sampai memprediksi risiko perusahaan,” kata Farah.

Mahasiswa aktuaria akan dibimbing dosen-dosen yang ahli di bidangnya. UNPAR saat ini memiliki satu orang dosen yang sudah bersertifikasi Associate of the Society of Actuaries of Indonesia (ASAI) dan tiga dosen lainnya sedang menempuh ujian aktuaris di Indonesia atau Amerika Serikat.

“Kami optimistis program aktuaria diminati mahasiswa. Aktuaris di non-life insurance, terutama di bidang asuransi umum, masih sedikit. Ini lahan yang belum banyak disentuh. Lulusan yang menguasai non-life insurance akan menjadi incaran banyak perusahaan asuransi non-life,” kata Farah. Ia menambahkan, Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) yang berdiri sejak 1964 baru memiliki sekitar 500 anggota.

Ujian sertifikasi aktuaris diselenggarakan PAI. Untuk menjadi seorang aktuaris setingkat ajun (associate), seseorang harus lulus tujuh mata ujian, sedangkan untuk menjadi aktuaris setingkat fellow, harus lulus tiga mata ujian lanjutan. Sejak tahun 2017, UNPAR menandatangani kerjasama dengan PAI untuk Program Penyetaraan sehingga kelulusan beberapa mata kuliah dengan standar nilai tertentu dapat disetarakan dengan kelulusan empat mata ujian sertifikasi Aktuaris yang diselenggarakan oleh PAI.

Untuk mengembangkan program aktuaria, UNPAR saat ini bekerja sama, antara lain dengan Risk Management Economic Sustainability and Actuarial Science Development in Indonesia (READI) Project dari Kanada. Farah menjelaskan, dukungan yang diberikan READI diantaranya, meningkatkan kemampuan para dosen melalui workshop bidang aktuaria sehingga dosen bisa mengajar lebih baik.

Selain itu, READI dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memberikan beasiswa bagi mahasiswa S1 prodi matematika UNPAR yang berprestasi. AAJI juga memberikan kesempatan magang dan rekrutmen setelah mereka lulus dari UNPAR.

Informasi lebih jelas dan pendaftaran tentang Program Aktuaria di UNPAR bisa diakses melalui pmb.unpar.ac.id atau matematika.unpar.ac.id. (*)

Sumber: Majalah Tempo (Senin, 22 April 2019)