Home / Berita Terkini / Aktuaris, Analis Risiko Incaran Perusahaan Besar
  • Penerima Beasiswa AAJI

  • Dr Ferry Jaya Permana sebagai narasumber Seminar Aktuaria di Papua

  • Kunjungan Perusahaan Prodi Matematika UNPAR ke Manulife Indonesia

Aktuaris, Analis Risiko Incaran Perusahaan Besar

Pada tahun 2019 ini, Kementerian Pertanian (Kementan) menghimbau petani Indonesia untuk waspada akan bahaya El Nino, seperti yang telah terjadi pada tahun 2015. Kerugian kebakaran di lahan pertanian dan perkebunan pada saat itu mencapai Rp 120 trilliun (8,8 miliar dolar AS) (World Bank). Petani mengalami kerugian finansial akibat bencana El Nino. Sebenarnya, kerugian finansial tersebut dapat dialihkan dengan membeli asuransi pertanian (crop insurance) yang perhitungannya menggunakan ilmu Aktuaria.

El Nino merupakan fenomena cuaca ekstrem yang kerap terjadi ketika temperatur permukaan laut pada Samudra Pasifik menghangat di atas suhu normal untuk periode waktu yang lama. Kebalikannya, La Nina terjadi jika suhu permukaan laut pada Samudra Pasifik mendingin di bawah suhu normal. Kedua fenomena tersebut merupakan hal yang sudah lumrah terjadi di Samudra Pasifik yang juga melewati Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan daerah tropis lainnya. Oleh karena itu, peristiwa El Nino mempengaruhi bukan hanya Indonesia, namun juga seluruh dunia. Padahal kebutuhan dasar manusia seperti makanan berasal dari pertanian.

Agar usaha pertanian terlindungi dari ancaman kekeringan seperti El Nino, kepesertaan asuransi pertanian tanaman pangan di kalangan petani Jawa Barat terus mengalami peningkatan. Selain itu, lahan pertanian juga dibayang-bayangi oleh banjir, serangan hama dan penyakit, serta akibat perubahan iklim. Paparan tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Uneef Primadi, terkait keterangan tertulis dari Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi (Distanhor) Jawa Barat di Jatnika, Bandung pada Selasa (26/2/2019). Asuransi pertanian sendiri adalah pengalihan risiko yang dapat memberikan ganti rugi akibat kerugian sehingga keberlangsungan usaha tani dapat terjamin. Untuk memotivasi pentingnya asuransi, Distanhor memberikan contoh dengan yang sudah berjalan di negara Jepang. Di sana, para petaninya sudah lama terbiasa dengan asuransi pertanian.

Untuk membuat polis asuransi pertanian, kita harus dapat menaksir besar kerugian finansial yang disebabkan oleh bencana tersebut, yakni dengan menggunakan ilmu Aktuaria. Seseorang dengan kemampuan ini, yang disebut aktuaris, akan mengaplikasikan teori probabilitas, statistika, pemrograman komputer, serta ilmu ekonomi dan keuangan supaya persoalan bisnis yang menyangkut risiko dapat terselesaikan. Namun profesi ini masih belum banyak peminatnya di Indonesia. Terlebih lagi, jumlah aktuaris di bidang asuransi umum seperti asuransi pertanian ini masih sangat minim jumlahnya. Lulusan yang pakarnya dalam bidang asuransi umum akan menjadi incaran banyak perusahaan asuransi umum. Untuk mendukung peningkatan kemampuan mahasiswa di bidang asuransi umum, dalam Program Studi (Prodi) Matematika Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) diajarkan mata kuliah seperti Teori Risiko dan Analisis Prediktif guna menjadi fondasi dari asuransi non-life ini.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mensyaratkan bahwa setiap perusahaan asuransi wajib memiliki minimal tiga aktuaris. Sementara itu, jumlah seluruh aktuaris di Indonesia hanya sekitar 500 anggota dari tahun 1964 hingga 2019 ini. Untuk menjadi seorang aktuaris setingkat ajun (associate), seseorang harus lulus tujuh mata ujian Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), sedangkan untuk menjadi aktuaris setingkat fellow, ia harus lulus tiga mata ujian lanjutan. Sejak tahun 2017, Prodi Matematika UNPAR menandatangani perjanjian kerjasama dengan PAI untuk Program Penyetaraan sehingga kelulusan beberapa mata kuliah dengan standar nilai tertentu dapat disetarakan dengan kelulusan empat mata ujian sertifikasi aktuaris yang diselenggarakan PAI.

Untuk mengembangkan Program Aktuaria, UNPAR saat ini juga bekerja sama dengan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Risk Management Economic Sustainability and Actuarial Science (READI) Project dari Kanada. Keduanya memberikan beasiswa bagi mahasiswa S1 Prodi Matematika UNPAR yang berprestasi. Selain itu, AAJI juga memberikan kesempatan magang dan rekrutmen setelah mereka lulus dari UNPAR. Bekerjasama dengan READI Project, Prodi Matematika UNPAR juga giat mempromosikan Program Aktuaria. Beberapa waktu yang lalu, salah seorang dosen Program Aktuaria UNPAR Dr. Ferry Jaya Permana diberikan kesempatan untuk menjadi narasumber dalam Seminar “Aktuaris, Peluang Karir Terbesar di Bidang Matematika” yang diselenggarakan oleh READI Project di Jayapura, Papua.

Sejak tahun 2005, Prodi Matematika UNPAR memiliki peringkat akreditasi A, dan sejak tahun 2019 ini, mengembangkan dua program baru, yaitu Program Aktuaria dan Program Matematika Terapan. Sebagai seorang mahasiswa, aktivitas tidak hanya dilakukan dalam kelas saja, namun juga dapat dilakukan di luar kelas. Salah satu kegiatan mahasiswa yang mendukung pembelajaran merupakan Kunjungan Perusahaan, yang diadakan 16-17 Januari 2019 silam, ke PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Bukalapak, serta Bank Mandiri. Di samping itu, terdapat juga program magang dan rekrutmen yang bekerja sama dengan AAJI untuk dapat bekerja dalam perusahaan asuransi jiwa dan umum di Indonesia. Alumni Prodi Matematika UNPAR telah banyak berkarya di berbagai sektor seperti asuransi, investasi, industri, perbankan, pendidikan ataupun yang melanjutkan studi baik di dalam maupun luar negeri.

Informasi lebih lanjut tentang Prodi Matematika UNPAR, khususnya terkait Program Aktuaria dan Program Matematika Terapan dapat diperoleh di http://matematika.unpar.ac.id atau dapat ditanyakan melalui e-mail math@unpar.ac.id.

Sumber: Pikiran Rakyat (Kamis, 25 April 2019)