Home / Berita Terkini / Adaptasi Dunia Pendidikan

Adaptasi Dunia Pendidikan

Tahun ajaran baru untuk siswa TK, SD, SMP, dan SMA dimulai pada Senin 13 Juli 2020. Yang berbeda pada tahun ajaran baru kali ini, tidak ada lagi acara penyambutan siswa baru di sekolah seperti pada tahun sebelumnya dan metode pembelajaran yang baru, yaitu pembelajaran daring. Pandemi COVID-19 masih menjadi momok bagi kita semua untuk membuka (kembali) sekolah-sekolah dengan metode pembelajaran luar daring (luring). Walhasil, sampai akhir tahun, metode pembelajaran yang dilakukan akan sepenuhnya daring. Pertanyaannya, bagaimana kita beradaptasi dengan kebiasaan baru dunia pendidikan sekarang ini?

Daring

Saat ini dunia sedang mengalami pergeseran menuju era revolusi industri 4.0 dan pedagogi pendidikan 3.0. Pandemi COVID-19 mempercepat perubahan dari pedagodi pendidikan 2.0 yang fokus pada interaksi guru dan siswa, termasuk interaksi antar siswa dalam kegiatan pembelajaran. Sementara pedagogi pendidikan 3.0 terfokus pada ketersediaan dan pemanfaatan jaringan, koneksi, media pembelajaran, dan sumber daya lainnya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran baik untuk guru maupun siswa sekolah dan bahkan kebutuhan masyarakat. Banyak aplikasi dan konten-konten terkait materi pendidikan sekolah yang tersebar di dunia maya dan dengan mudah diakses dan dimanfaatkan bagi guru dan siswa.

Kebijakan untuk ‘merumahkan’ guru dan siswa sebagai bagian dari kebijakan pencegahan penyebaran COVID-19 membuat guru, orangtua siswa, dan siswa sendiri harus memahami pemberlakuan metode pembelajaran daring. Tentu ada cerita sukses dan cerita gagal dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Masalah sukses atau gagal terfokus pada dua hal: pertama, kemampuan guru dalam melakukan metode pembelajaran daring dan kemampuan siswa dalam memahami materi yang diberikan secara daring. Kedua, ketersediaan dan stabilitas perangkat keras dan stabilitas jaringan internet untuk mendukung kegiatan pembelajaran daring. Masalah semakin kompleks karena adanya keluhan para orangtua siswa yang mendadak harus menjadi guru atau tutor yang menguasai semua materi ajar bagi anak-anak di rumah.

Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang mengungkapkan pembelajaran jarak jauh bisa diterapkan permanen setelah pandemi Covid-19 selesai, tentu memancing debat di masyarakat. Apakah benar kita semua siap dengan metode pembelajaran jarak jauh atau daring kedepannya?

Infrastruktur

Kesiapan sekolah dan guru untuk melaksanakan pembelajaran daring tentu merujuk pada dua hal mendasar, yakni ketersediaan perangkat keras seperti komputer dan laptop untuk mendukung pembelajaran daring serta kemampuan guru dalam memberikan materi pelajaran secara daring tanpa mengurangi kualitas materi ajar.

Pada Buku Putih Komunikasi dan Informatika Indonesia 2016 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika disebutkan, pembangunan infrastruktur menara pemancar telekomunikasi (Base Tranceiver Station/BTS) masih belum tersebar merata di Indonesia. Banyak wilayah-wilayah pedesaan yang belum tersedia BTS sebagai penyedia jaringan telekomunikasi dan internet. Kendala yang dihadapi, masalah klasik yakni kondisi geografis dan wilayah yang tentu memerlukan investasi besar pada pembangunan infrastruktur.

Sebaran pembangunan

BTS (2G, 3G, dan 4G) masih terfokus di Sumatra dan Jawa. Hal ini menyebabkan adanya kesenjangan ketersediaan jaringan telekomunikasi dan internet pada wilayah-wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Pemerintah perlu memperhatikan sebaran ketersediaan jaringan internet guna mendukung metode pembelajaran daring sekaligus upaya menekan penyebaran COVID-19. Perlu diperhatikan sekolah-sekolah yang ada di daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi dan internet.

Hal lain yang perlu disiapkan adalah ketersediaan perangkat keras bukan saja oleh pihak sekolah bagi guru dalam memberikan materi ajar akan tetapi juga bagi siswa dalam mengikuti pembelajaran daring ini. Komputer dan perangkat pendukungnya harus tersedia untuk memudahkan tugas para guru untuk memaksimalkan metode pembelajaran jarak jauh ini.

Bagi siswa (dan orangtua siswa), ketersediaan setidaknya smartphone dan kuota internet harus menjadi kewajiban. Pemerintah dapat memberikan bantuan penyediaan smartphone dengan menggandeng pihak swasta sekaligus menyediakan paket-paket kuota internet murah bagi para siswa.

Peningkatan SDM

Berikutnya, sekolah perlu mempersiapkan sumber daya manusia untuk siap dalam menjalankan kegiatan pembelajaran daring. Kesiapan ini bukan saja terkait penyampaian materi ajar agar supaya materi bisa dengan mudah dipahami siswa akan tetapi juga metode pengajaran yang efektif, yang mampu melibatkan interaksi guru dan siswa serta sesama siswa dalam proses pembelajaran daring. Model pedagogi pendidikan 3.0 membuat sekolah harus mempersiapkan konten materi ajar yang menarik. Harus dicatat, pembelajaran daring membutuhkan kreativitas guru dan siswa. Tidak semua guru mampu menyesuaikan dengan metode pembelajaran daring ini, terutama untuk materi-materi pelajaran berhitung yang membutuhkan penjelasan khusus. Perlu diberikan pelatihan-pelatihan secara berkala untuk para guru sehingga mampu beradaptasi dengan metode pembelajaran daring, pelatihan untuk pembuatan materi ajar yang menarik, pelatihan untuk berbicara dan mengajar yang efektif melalui pemanfaatan perangkat keras, dan pelatihan-pelatihan lain yang dibutuhkan.

Pemerintah perlu memperhatikan hal ini terutama terkait masih adanya gap kualitas guru antarwilayah dan daerah di Indonesia. Kemajuan teknologi dan adanya pandemi COVID-19 mendorong kesiapan kita semua terutama guru dan siswa untuk beradaptasi dalam menjalankan metode pembelajaran daring yang efektif. Metode ini mau tidak mau harus mampu mempertahankan kualitas materi ajar selayaknya pembelajaran luring seperti sebelumnya. Adaptasi kebiasaan baru dalam dunia pendidikan adalah keniscayaan. Saatnya menyongsong metode pembelajaran daring dengan lebih baik, lebih siap, dan lebih bermanfaat bagi guru, siswa, dan masyarakat.

Penulis: Aknolt Kristian Pakpahan – Wakil Dekan Bidang Akademik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan.

Sumber: Pikiran Rakyat – Selasa, 14 Juli 2020