Home / Berita Terkini / Festival Arsitektur Parahyangan 2019: Public Space for Children
Mahasiswa melintasi karya instalasi sekaligus pintu masuk FAP 2019. Instalasi serupa lorong ini merupakan buah karya mahasiswa arsitektur angkatan 2018.

Festival Arsitektur Parahyangan 2019: Public Space for Children

Kurangnya ruang publik di Kota Bandung yang ramah anak menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat saat ini. Kota Bandung memiliki banyak taman-taman tematik menarik dan berpotensi untuk menjadi pusat kegiatan masyarakat. Namun kenyataannya, taman-taman tersebut belum dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat Bandung, khususnya anak, sebagai fasilitas yang aman dan dapat menstimulasi perkembangan anak.  

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat umum mengenai permasalahan tersebut, maka Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (HMPSArs Unpar) kembali menggelar Festival Arsitektur Parahyangan (FAP) pada Jumat dan Sabtu, 17-18 Mei 2019.  

FAP merupakan program kerja terbesar sekaligus penutup kepengurusan HMPSArs, berisikan pameran dari himpunan serta wadah minat, instalasi yang menggambarkan tema, seminar, serta festival musik. FAP sudah berlangsung sejak tahun 2007 dan hingga saat ini telah terselenggarakan 13 acara tahunan. FAP bertujuan untuk memberikan gagasan dari permasalahan yang terjadi di Kota Bandung yang dikemas ke dalam bentuk rangkaian acara festival.

Dengan mengusung tema Public Space for Children, FAP kali ini memiliki layout festival dengan alur cerita yang menggambarkan tema ruang publik ramah anak. Di dalamnya terdapat berbagai pameran wadah minat arsitektur, yakni Arsitektur Foto, Arsitektur Hijau, Arsitektur Sketsa, dan Kommunars yang menceritakan latar belakang dari tema.

Para pengunjung diarahkan untuk melewati entrance gate yang dibuat oleh mahasiswa Arsitektur angkatan 2018 yang menggambarkan kondisi ruang publik saat ini dan kondisi ideal dari tema. Kemudian pengunjung dapat melihat pameran dari sayembara Paradesc yang juga menunjukkan ide-ide gagasan dari mahasiswa-mahasiswa arsitektur se-Indonesia. Terakhir, pengunjung disajikan dengan Grand Installation yang merupakan gagasan utama yang FAP berikan kepada masyarakat.

“Kita mengangkat tema ini untuk memberitahukan kepada masyarakat umum, khususnya orang dewasa dan para arsitek agar mereka sadar betapa pentingnya fasilitas-fasilitas anak itu untuk perkembangan mereka,” Jawab Affan Yahya, selaku ketua pelaksana saat ditanyakan mengapa mengangkat tema Public Space for Children untuk FAP tahun ini.

Untuk memikirkan konsep acara FAP kali ini, panitia melakukan penelitian selama kurang lebih empat bulan dengan data-data yang dikumpulkan sendiri. Kesimpulan dari data yang dikumpulkan adalah ruang publik di Kota Bandung masih belum ramah anak berdasarkan sample taman-taman tematik yang ada di Bandung. Namun di sisi lain, data yang dikumpulkan juga menunjukkan bahwa terdapat banyak anak-anak yang menjalankan aktivitas di ruang publik tersebut.

“Sebagai contoh, taman yang ramah anak dari segi daya tarik dan keamanan adalah playground yang memiliki empat level variasi permainan berbeda dan memakai material yang aman seperti karet sintetis untuk area permukaannya,” jelas Affan mengenai beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan ruang publik yang ramah anak. “Simple kan? Tapi kalau diperhatiin, taman-taman kota di Bandung itu gak punya loh, dan masih banyak lagi variabel-variabel lainnya yang menjadi bahan penilaian,” lanjutnya.

Tahun ini acara FAP diselenggarakan selama dua hari pada tanggal 17-18 Mei 2019. Pada Jumat (17/5) rangkaian acara berisikan pameran, instalasi, dan seminar arsitektur dengan tema Architecture for Children: Design that Shapes Children’s Growth yang dihadiri oleh arsitek dari Aboday dan Arkana. Kemudian pada Sabtu (18/5), rangkaian acara terdiri dari penjurian sayembara nasional, dilanjut dengan festival musik yang dimeriahkan oleh bintang tamu Pamungkas, Tashoora, 90HP, Garhana, dan Dream Coterie.“Untuk harapannya sih semoga pesan yang kita bawa ini bisa diterima di masyarakat umum, dan semoga memiliki dampak positif bagi lingkungan,” harap Affan. Usai acara, instalasi yang dibuat kemudian disumbangkan ke sekolah-sekolah agar menambahkan nilai sustainability dari instalasi tersebut. “Dan juga harapan yang gak kalah penting adalah semoga dengan acara ini kami dapat memberikan kesan baik buat angkatan 2016 yang turun himpunan, buat angkatan 2017 yang naik himpunan, dan buat angkatan 2018 yang sudah secara resmi menjadi bagian dari himpunan dan masyarakat arsitektur lainnya,” tambahnya.